Menakar Kekuatan Gibran Menang Lawan Kotak Kosong di Solo

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Rabu, 12 Agu 2020 09:37 WIB
Gibran Rakabuming Raka di kantor DPC PDIP Solo, Jumat (28/2/2020).
Gibran Rakabuming (Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Jakarta -

Setelah diusungnya anak Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka, oleh PDIP untuk maju di Pilkada Solo 2020, muncul gerakan kotak kosong. Gerakan kotak kosong ini muncul karena Gibran berpotensi besar menjadi calon tunggal dalam Pilkada Solo.

Fenomena gerakan kotak kosong dalam pilkada bukan hal baru di Indonesia, dan terjadi di Pilkada Makassar 2018. Lalu, seberapa kuat Gibran dapat menang melawan kotak kosong jika hal itu terjadi?

Pengamat politik M Qodari menilai Gibran Rakabuming Raka punya kekuatan besar menang melawan kotak kosong. Gibran terbantu oleh Jokowi, yang dinilai cukup berprestasi di Kota Solo.

"Menurut saya, harusnya sangat kuat, ya. Pertama, kalau kita bicara Pilkada Solo, di sana terbantu oleh prestasi Jokowi sebagai wali kota, ketika menjabat wali kota beberapa tahun yang lampau dan kita tahu bahwa Pak Jokowi bisa dianggap berhasil-sukses. Buktinya, ketika maju lagi, angkanya spektakuler, ya mencapai 90 persen," kata Qodari kepada wartawan, Selasa (11/8/2020).

Jokowi, yang merupakan Wali Kota Solo sebelum hijrah menjadi Gubernur DKI Jakarta, memiliki pengaruh besar untuk membantu kemenangan Gibran melawan kotak kosong. Jokowi dinilai memiliki kekuatan dari prestasi di Solo dan menular kepada sang anak.

"Pengalaman saya, kalau anak atau istri dari petahana atau mantan petahana maju, itu nasibnya sangat dipengaruhi oleh kinerja ayah atau sang suami, begitu. Kalau kinerja ayah atau suami bagus, itu masyarakat biasanya punya kecenderungan untuk mendukung lagi, karena ingin punya harapan program-program yang sudah dianggap berhasil atau bagus itu bisa dilanjutkan," ucap Qodari.

"Akan tetapi, kalau bapak atau suami dianggap gagal, anak dan istri itu sangat-sangat sulit terpilih karena masyarakat juga nggak mau ketidakberhasilan anak atau suaminya itu kemudian berlanjut. Bapaknya saja gagal, apalagi anaknya, itu menurut saya Gibran terbantu oleh pola semacam itu," sambungnya.

Faktor lain yang dilihat Qodari sebagai kekuatan Gibran untuk menang melawan kotak kosong adalah Solo sebagai 'kandang banteng'. PDIP memiliki kekuatan besar di parlemen Solo dan mesin partai.

"Jadi Gibran juga dibantu atau terbantu oleh sebuah mesin politik yang amat sangat-sangat kuat ya. Kita tahu bahwa Jawa Tengah itu merupakan kandang banteng, Solo itu kandangnya kandang banteng ya, kira-kira begitu," sebut Qodari.

Gibran dinilai belum memiliki permasalahan besar untuk menang di Pilkada Solo, terutama melawan kotak kosong. Qodari juga menyinggung soal Pilkada Makassar 2018, ketika kotak kosong menang melawan pasangan calon (paslon). Namun, Pilkada Solo 2020 saat ini dinilai berbeda dengan Pilkada Makassar 2018.

Bakal calon Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka melakukan blusukan di Kampung Jogobayan, Surakarta, Jawa Tengah, sambil mengenakan jersey Manchester United lho.Bakal calon Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, melakukan blusukan di Kampung Jogobayan, Surakarta, Jawa Tengah, sambil mengenakan jersey Manchester United. (Foto: Agung Mardika)

"Tapi itu konteksnya sangat berbeda dengan di Solo. Bedanya di mana? Bedanya, kalau di Solo, Gibran maju dan ayahnya adalah Jokowi, yang amat sangat sukses, notabene yang artinya diinginkan masyarakat. Sebaliknya, di Kota Makassar, waktu itu ada petahana, namanya Dani Pomanto. Dia sangat populer, tapi kemudian dia tidak bisa maju akibat masalah hukum," ucap Qodari.

Kotak kosong yang menang di Pilkada Makassar 2018 dinilai Qodari sebagai cerminan dukungan kepada paslon yang tak bisa berkompetisi. Hal ini jugalah yang menurut Qodari berbeda konteks dengan Gibran di Pilkada Solo.

"Dan rupanya saya melihat bahwa kotak kosong itu menjadi simbol atau representasi dari dukungan kepada Dani Pomanto, dan saya dengar-dengar memang Dani Pomanto dan pendukungnya berada di belakang gerakan kotak kosong, sehingga akhirnya kotak kosong yang menang di Pilkada Kota Makassar," tutur Qodari.

Oleh sebab itu, Qodari berkesimpulan Gibran dapat menang melawan kotak kosong dengan kekuatan politik yang dimilikinya. Sedangkan kotak kosong dalam sejarah pilkada di Indonesia sulit menang.

"Kesimpulannya sekali lagi, Gibran melawan kotak kosong kemungkinan besar akan menang. Yang kedua, boleh dibilang semua kasus kotak kosong tidak ada yang menang, kecuali di Makassar, dan di Makassar kotak kosong justru karena merepresentasikan atau menjadi simbol dari petahana yang sangat populer yang tidak bisa maju karena masalah atau aspek hukum," imbuh Qodari.

Tonton video 'Gibran Vs Kotak Kosong, Pengamat: Ada yang Tak Suka Calonnya':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2


Debat Capres AS