Round-Up

Pasang Surut PA 212 dengan Prabowo Bak Benang Kusut

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 11 Agu 2020 07:47 WIB
Bakal capres Prabowo Subianto telah menandatangani pakta integritas yang dibuat Ijtimak Ulama II di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Minggu (16/9/2018).. Usai penandatanganan, Prabowo dan para ulama bergandengan tangan bersama.
Prabowo Subianto. (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Hubungan antara PA 212 dengan Prabowo Subianto pasang surut bak benang kusut. Dulu satu komando mendukung Ketum Gerindra itu duduk di kursi RI 1, kini nyaring sebut Prabowo sudah finish.

Hubungan Prabowo dengan PA 212 itu dimulai sejak Pilpres 2019 lalu. PA 212 dkk menggelar Ijtimak Ulama yang mana keputusan forum itu merekomendasikan Prabowo sebagai Capres 2019. Ijtimak Ulama diinisiasi oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama, Front Pembela Islam, dan PA 212.

Forum Ijtimak Ulama juga berjilid-jilid. Pada Ijtimak Ulama yang pertama, Prabowo dapat rekomendasi untuk berpasangan dengan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf dan Ustaz Abdul Somad. Rekomendasi itu keluar pada Juli 2018.

Dinamika politik pada saat itu berkembang. Sampai akhirnya Prabowo berpasangan dengan Sandiaga Uno.

PA 212 pun tak lantas langsung mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga. Karena dua nama di Ijtimak Ulama I tak ada yang dipilih, Habib Rizieq Syihab meminta digelar Ijtimak Ulama II.

Akhirnya keputusan mendukung atau tidak pasangan Prabowo-Sandiaga ditetapkan melalui Ijtimak Ulama II. Pada 16 September 2018, Imam besar FPI Habib Rizieq Syihab secara resmi menyatakan dukungannya kepada pasangan bakal capres Prabowo Subianto dan bakal cawapres Sandiaga Uno.

Lalu Pilpres 2019 digelar pada 17 April 2019. Kekalahan Prabowo-Sandiaga dari pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin berdasarkan situng KPU, menambah babak baru Ijtimak Ulama jilid III.

Ijtimak Ulama III menyimpulkan Pilpres 2019 diwarnai kecurangan yang terstruktur, sistematis dan masif. Ijtimak lalu mendesak Bawaslu-KPU untuk mendiskualifikasi paslon 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin dari Pilpres 2019. Namun Jokowi-Ma'ruf tetap dinyatakan menang oleh KPU.

Sampai pada Ijtimak Ulama Jilid IV, PA 212 masih berada di belakang Prabowo. Ijtimak Ulama IV ini tetap menyimpulkan bahwa kemenangan Jokowi-Ma'ruf sarat akan kecurangan. Mereka menolak pemerintahan yang dipimpin Jokowi-Ma'ruf.

Pasang badan PA 212 untuk Prabowo lantas luntur ketika Prabowo masuk kabinet Indonesia Maju Presiden Jokowi. Prabowo ditunjuk Jokowi sebagai Menteri Pertahanan.

Ketua PA 212 Slamet Maarif menanggapi dingin keputusan Prabowo jadi pembantu Presiden. Namun dia mendoakan Prabowo agar bisa menjaga pertahanan negara dan umat.

"Kami tidak ingin mencampuri hak pribadi PS (Prabowo Subianto), jika itu keputusan yang diambil PS menjadi Menhan, kita hanya bisa mendoakan semoga ada manfaat buat pertahanan negara dan umat, tetapi secara organisasi, kami tetap berpegang pada hasil Ijtimak ulama 4, dan tidak akan rekonsiliasi dengan kekuasaan yang curang dan zalim," kata Slamet, Kamis (24/10/2019).

Sepuluh Bulan Ketum Gerindra itu masuk pemerintahan Jokowi, hubungan Prabowo dengan PA 212 sudah benar-benar surut. Apalagi ketika Partai Gerindra bicara soal proyeksi Prabowo pada Pilpres 2024.

Tonton video 'Jadi Ketum Gerindra Lagi, Prabowo Maju Pilpres 2024?':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2