Acara Doa Pernikahan di Solo Diserang Massa, Polri: Tak Dibenarkan

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 11 Agu 2020 06:24 WIB
Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Argo Yuwono,
Irjen Argo Yuwono (Foto: dok Polri)
Jakarta -

Polri menegaskan organisasi masyarakat (ormas) tidak boleh melakukan aksi pembubaran secara sepihak. Polisi meminta masyarakat untuk melibatkan aparat keamanan jika mendapatkan info yang belum valid.

"Iya nggak dibenarkan (aksi pembubaran sepihak)," kata Kadiv Humas Polri, Irjen Argo Yuwono saat dihubungi, Senin (10/8/2020).

Argo mengimbau masyarakat untuk melaporkan ke polisi jika menemukan informasi yang belum jelas kebenarannya. Bukan justru melakukan tindakan secara sepihak.

"Masyarakat bisa menahan diri biar kepolisian yang bertindak melakukan penyelidikan apabila ditemukan pelanggaran pidana," imbuhnya.

Seperti diketahui, polisi telah menangkap dua orang pelaku berinisial BD dan HD yang diduga melakukan tindakan penyerangan acara doa pernikahan. Polisi juga meminta agar pelaku lainnya segera menyerahkan diri atau akan ditangkap dengan cara tegas.

Peristiwa itu terjadi rumah keluarga almarhum Segaf bin Jufri di Mertodranan, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Sabtu (8/8) sekitar waktu magrib. Pelaku membubarkan acara doa bersama menjelang pernikahan.

Video penyerangan tersebut beredar di media sosial. Massa yang datang ke lokasi tampak berteriak-teriak dan melempari peserta acara tersebut. Memed mengungkap tiga orang menjadi korban terluka akibat dikeroyok yakni Umar Assegaf (54) dan anaknya, HU (15), serta Husin Abdullah (57). Mereka ditendang, dipukul dan dilempari batu. Selain itu, beberapa kendaraan juga dirusak oleh pelaku.

(maa/idn)