Mendagri Soroti Positivity Rate Jatim Lebih Tinggi dari DKI, Minta Tes Diperbanyak

Yulida Medistiara - detikNews
Jumat, 07 Agu 2020 20:05 WIB
Mendagri Tito Karnavian
Mendagri Tito Karnavian (Foto: dok.screenshot video Kemendagri)
Jakarta -

Angka kasus positif COVID-19 hingga kini masih terbanyak dari Provinsi Jawa Timur. Mendagri Tito Karnavian meminta Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kian gencar melakukan tes PCR.

"Data yang ada saat ini, Jawa Timur sudah nyalip Jakarta dalam jumlah angka yang positif. Itu juga menjadi cambuk bagi kita untuk bekerja lebih keras. Fatality rate, tingkat kematian, juga nomor 2 setelah Bengkulu," ujar Mendagri Tito Karnavian dalam acara launching Gerakan 26 Juta Masker se-Provinsi Jawa Timur di Kabupaten Malang, yang disiarkan di YouTube live streaming Kemendagri, Jumat (7/8/2020).

Meski begitu, Tito memuji Jatim, yang angka pasien sembuhnya terbanyak. Kemudian Tito menyoroti angka tes PCR COVID-19 oleh Jatim yang dinilai belum maksimal, yaitu sebanyak 151.582. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya hampir 40 juta, berarti baru 3.808 per 1 juta penduduk.

Tito mengaku mendapatkan data tersebut dari Menkes Terawan. Kemudian Tito membandingkan data warga yang dites PCR dengan Jawa Barat. Menurut Tito, jumlah warga yang dites di Jawa Timur lebih banyak daripada di Jabar.

"Kita lihat daerah lain, misalnya di Jabar. Jabar itu, Ibu, sudah melampaui dengan penduduk lebih besar hampir 50 juta, PCR-nya 140 ribu. Sedangkan di sini 39 juta, PCR-nya di atas 150 ribu, di 3.000 lebih per 1 juta penduduk. Jabar 2.820. Tapi, kalau kita bandingkan dengan DKI, DKI itu penduduknya 10 juta, pemeriksaannya hampir setengah juta," ujar Tito.

Meski begitu, Tito meminta upaya tes kepada warga Jatim terus ditingkatkan agar menemukan lebih banyak kasus positif. Sementara di DKI Jakarta, Tito mengatakan jumlah warga yang dites PCR kini sudah hampir 500 ribu orang, tetapi jumlah tes PCR itu juga atas dukungan pemerintah pusat terhadap Ibu Kota.

"Jumlah yang tes PCR 46.674, bandingkan dengan Jawa Timur yang tadi 3.000 lebih, artinya masih perlu tambahan. Tapi saya tahu Ibu Khofifah kan pasti bisik-bisik sama saya, 'Ya Pak, kalau DKI kan didukung pemerintah pusat juga all out waktu di awal-awal'," ungkap Tito.

Meski begitu, ia menyebut tingginya kasus positif baru di Jatim perlu diwaspadai. Ia menyebut pemerintah pusat juga akan membantu Jatim menangani COVID-19.

"Tapi sekali lagi kita perlu waspada kenapa tingkat positivity rate di Jawa Timur tertinggi di Indonesia. Ini adalah alert bagi kita semua bahwa kita tidak boleh berhenti untuk berjuang dan pemerintah pusat pasti akan dukung all out untuk Jawa Timur," ucapnya.

Tito juga menyebut Presiden Joko Widodo meminta pemerintah pusat memprioritaskan delapan daerah agar dibantu maksimal. Tito menyebut kepala daerah juga harus bekerja maksimal menangani COVID-19.

"Bapak Presiden menitip pesan kepada saya, 'Pak Mendagri, waspadai 8 wilayah dulu prioritas, yaitu Jawa, itu Banten, DKI, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, kalau Yogya relatif aman, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara. Pada grade yang di bawahnya adalah Papua, Sumatera Selatan, kampung saya juga," ungkapnya.

Tito mengatakan kepala daerah yang memiliki APBD yang cukup untuk membangun lab PCR agar dilakukan. Hal itu untuk memperbanyak jumlah penduduk yang dites PCR.

"Bahkan tadi saya sampaikan ke Bu Khofifah untuk daerah-daerah lain yang merah dan penduduknya padat dan punya uang ruang fiskal yang cukup, bila perlu, beli lab untuk PCR. Kalau nggak bisa lab stasioner, bisa juga lab yang berbentuk kontainer yang sudah terpisah antara deteksi, ekstraksi, dan eksaminasi. Kalau digabung agak rawan nih kalau kendaraan kecil. Bila perlu satu satu semua, supaya makin banyak swab memang angka kenaikan akan tinggi, tapi kita bisa memisahkan," ujar eks Kapolri itu.

(yld/imk)