Round-Up

Buka-bukaan Jerinx soal Postingan 'IDI Kacung WHO'

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Jumat, 07 Agu 2020 07:54 WIB
Jerinx SID memenuhi panggilan polisi soal laporan IDI.
Jerinx 'SID' memenuhi panggilan polisi soal laporan IDI. (Angga Riza/detikcom)

Dicecar 13 Pertanyaan

Jerinx dicecar 13 pertanyaan terkait laporan IDI soal dugaan pencemaran nama baik.

"Tadi klien kami Jerinx diperiksa ada sebanyak kurang-lebih 13 pertanyaan terkait dengan posting-an di akun Instagram dengan @jrxsid tertanggal 13 juni 2020 dan posting-an tertanggal 15 Juni 2020," kata pengacara Jerinx, I Wayan Gendo Suardana kepada wartawan, Kamis (6/8/2020).

Gendo mengklarifikasi tidak ada maksud dari Jerinx untuk menyebarkan kebencian terhadap dokter dan tenaga medis. Gendo mengungkap unggahan Jerinx tersebut merupakan sebuah kritik.

"Terhadap itu tadi sudah dijelaskan bahwa pertama tidak ada kebencian terhadap dokter secara pribadi terhadap tenaga kesehatan maupun kebencian terhadap IDI," imbuh Gendo.

"Bahwa apa yang dilakukan yang dijelaskan tadi yang dilakukan itu adalah dalam rangka kritik berharap besar justru berharap besar agar karena IDI satu satunya yang dijawab tadi ya IDI adalah organisasi profesi kedokteran di Indonesia yang diakui oleh undang-undang," jelas Gendo.

Gendo menjelaskan Jerinx mengkritik sejumlah kebijakan yang dinilai terlalu menyusahkan masyarakat. Apalagi sampai menimbulkan korban jiwa karena rumitnya kebijakan protokol kesehatan itu.

"Sehingga pada saat mem-posting tentang IDI itu adalah situasinya ada ibu hamil yang kemudian diwajibkan rapid test sebagai syarat pelayanan oleh karena itu kemudian kerugian-kerugian termasuk ada yang meninggal sehingga itu tadi yang dijelaskan membuat kerugian dan akhirnya pertanyaannya ke para IDI karena itu bagian dari IDI. IDI adalah punya kekuatan penuh untuk mengubah kebijakan lebih baik gitu itu aja sih," lanjut Gendo.

Sementara itu, Gendo menegaskan kata 'kacung' yang dipermasalahkan di posting-an Jerinx hanya sebuah tafsir. Menurutnya, arti kata 'kacung' yang dimaksud adalah pelayan.

"Kata 'kacung' itu soal tafsir saja bukan apa namanya karena kacung itu kan istilahnya bukan budak belian gitu ya, kacung itu ya pelayan dalam 'KBBI' jadi sebetulnya tafsirnya itu bukan sebagai budak belian, IDI itu ya diharapkan adalah memang tidak hanya ikut agenda agenda WHO gitu, itu sih prinsipnya yang tadi ya," tegas Gendo.

Utamakan Mediasi

Pengacara Jerinx, I Wayan Gendo Suardana, mengatakan posting-an Jerinx merupakan masalah persepsi yang bisa didiskusikan.

"Ya tadi juga apa namanya kita jelaskan di keterangan tambahan apa bahwa di depan penyidik bahwa pada prinsipnya kami dan klien kami itu memang mengutamakan mediasi karena ini masalah persepsi Jerinx adalah persepsi mengkritik mungkin persepsi IDI merasa dihina sehingga seharusnya persepsi ini ditemukan seharusnya ditemukan di diskusi begitu aja," kata Gendo.

Karena itu, pihaknya lebih mengutamakan mediasi. Dia kembali menegaskan posting-an Jerinx merupakan bagian dari harapan.

"Sehingga alatnya adalah mediasi dan rekonstruksi tergantung nanti pihak IDI juga seperti apa karena sekali lagi yang disampaikan Jerinx adalah bagian harapan dari IDI karena IDI punya power yang penuh sebagai satu-satunya organisasi sebagai agent of change dan juga di dalam KDRT-nya," tambah Gendo.

Gendo lalu memaparkan isi posting-an Jerinx meminta penjelasan kepada IDI. Penjelasan terkait rapid test yang digunakan sebagai syarat layanan rumah sakit.

"Dan harapannya itu makanya di posting-annya minta penjelasan, Jerinx minta penjelasan terhadap masalah penggunaan rapid test dalam layanan rumah sakit sebagai syarat layanan rumah sakit yang nyata-nyata itu juga dilarang oleh perhimpunan rumah sakit seluruh Indonesia poinnya masih sama seperti yang di awal," jelas Gendo.

Halaman

(aan/idn)