PN Jakpus Tolak Gugatan Transgender yang Minta Ditetapkan Jadi Laki-laki

Andi Saputra - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 16:26 WIB
ilustrasi jenis kelamin
Ilustrasi Transgender (Thinkstock)
Jakarta -

Terlahir sebagai perempuan, sebut saja Vin (22) merasa tidak nyaman. Seiring waktu, ia merasa dirinya sebagai laki-laki. Segala cara dilakukan agar harapannya terwujud. Namun, di mata hukum, Vin tetaplah seorang perempuan.

Hal itu terungkap dalam putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) yang dikutip detikcom, Kamis (6/8/2020). Vin dibesarkan dari kecil oleh orang tuanya sebagai perempuan. Namun, memasuki sekolah dasar (SD), ia mulai merasa nyaman memakai pakaian laki-laki.

Pada usia 17 tahun, Vin secara terbuka mengakui kepada ibunya bahwa ia menyadari dirinya sebagai laki-laki. Hal itu ditindaklanjuti dengan konsultasi kepada dokter spesialis kejiwaan di Jakarta Timur.

Pada 16 Januari 2018, Vin dinyatakan mengalami gender dhysporic, yaitu kondisi bertentangan antara identitas gender dan jenis kelamin biologi. Menurut dokter spesialis kejiwaan itu, Vin sejak lahir memang tidak terlahir layaknya jiwa seorang perempuan, melainkan jiwa seorang lelaki karena bisa diketahui melalui brain sex.

Pada 29 Juni 2019, institusi keagamaan Vin mengizinkan Vin menjadi laki-laki. Atas hal itu, Vin mantap menghadap hakim PN Jakpus agar bisa ditetapkan sebagai laki-laki di muka hukum.

Untuk meyakinkan hakim, Vin, menghadirkan ahli psikiater yang menanganinya. Dokter tersebut menyampaikan bahwa brain sex Vin adalah laki-laki, yang terkait dengan hypotalimus dalam otak Vin.

Dokter menyatakan Vin diberikan dua pilihan, pertama adalah tetap tubuhnya perempuan. Kedua, melakukan penyesuaian fisik melalui operasi.

Namun setelah melewati serangkaian terapi dengan dibenturkan pada diri sendiri, keluarga, masyarakat serta agama, maka Vin secara sintonik 100 persen memilih yang kedua, yaitu lebih memilih organ fisiknya yang disesuaikan (dimodifikasi) melalui operasi.

Dalam kasus yang dialami oleh Vin, bukan operasi ganti kelamin, melainkan adalah operasi penyesuaian (sex reassignment surgery). Si dokter menyarankan untuk melakukan pengangkatan payudara karena, dalam konsep transgender, sudah cukup pengakuan dengan cukup dengan berpenampilan laki-laki.

Di mata dokter, dampak terburuk apabila tidak mengikuti keinginan Vin adalah kemungkinan melakukan tindakan bunuh diri. Sebab, Vin merasa dirinya tidak berfungsi lagi.

Namun hakim PN Jakpus bergeming. Semua hal yang dilakukan Vin untuk meyakinkan hakim tidak membuahkan hasil.

"Menolak permohonan Pemohon," kata hakim tunggal Lucas Prakoso.

Menurut hakim Lucas, pengadilan berkesimpulan bahwa jenis kelamin dapat dilihat dari tiga aspek. Pertama, jenis kelamin secara fisik/penampilan, kedua, jenis kelamin secara kejiwaan, dan ketiga, jenis kelamin dari organ kelamin/kelamin biologis.

"Dalam konteks ilmu kedokteran kejiwaan/psikiatri tentang adanya gender dysphoric, pengadilan sama sekali tidak menolaknya," cetus Hakim Lucas.

Namun, kata hakim Lucas tegas, manakala masih ada satu hal yang tersisa belum terlaksana dari adanya perubahan jenis kelamin tersebut, maka akan timbul pandangan yang tidak benar mengenai apa yang tercatat dalam akta tersebut dengan kondisi/keadaan senyatanya.

"Oleh karena itu, pencatatan perubahan jenis kelamin yang ada dalam akta kelahiran haruslah sama atau identik antara yang tertulis dengan yang senyatanya karena pemahaman/perspektif masyarakat tentang perubahan jenis kelamin adalah pemahaman yang utuh meliputi ketiga aspek seperti tersebut di atas, dan tidak hanya jenis kelamin yang ada dalam ilmu kedokteran kejiwaan/psikiatri dan penampilan secara lahiriah fisik semata," tutur hakim Lucas.

(asp/elz)