Komisi IX DPR soal 'Corona Bisa Sembuh Sendiri': Luruskan dengan Edukasi

Mochamad Zhacky - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 14:34 WIB
Melki Laka Lena
Melki Laka Lena (Nur Indah/detikcom)
Jakarta -

Masih ingat Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto pernah menyebut virus Corona bisa sembuh dengan sendirinya? Kini anggapan 'Corona bisa sembuh sendiri' itu disebut memiliki peran dalam kematian akibat COVID-19.

Komisi IX DPR RI meminta pemerintah tak henti-hentinya mengedukasi masyarakat soal substansi pencegahan dan penanganan Corona. Wakil Ketua Komisi IX Emanuel Melkiades Laka Lena menyebut anggapan masyarakat yang salah harus diluruskan.

"Anggapan masyarakat yang salah diluruskan dengan edukasi yang benar," kata Melkiades kepada wartawan, Kamis (6/8/2020).

Melki, sapaan akrab Melkiades, mengingatkan edukasi soal pencegahan dan penanganan Corona tak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Dia meminta pemerintah juga melibatkan para tokoh masyarakat.

"Pemerintah perlu melibatkan ahli kesehatan dan tokoh masyarakat. Selalu edukasi publik secara rutin melalui berbagai media komunikasi," tuturnya.

Lebih lanjut Melki menilai penerbitan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 patut diapresiasi. Namun implementasi inpres tersebut harus dilakukan secara konsisten.

"Inpres ini perlu diapresiasi positif dan dijalankan dengan konsisten di pusat dan seluruh Indonesia. Membangun kesadaran masyarakat yang mulai abai terhadap protokol kesehatan perlu dibantu dengan aturan yang tegas, seperti inpres yang baru dikeluarkan ini," papar Melki.

Sebelumnya diberitakan, menurut anggota Tim Pakar Satgas Penanganan COVID-19 Dewi Nur Aisyah, anggapan yang keliru, seperti 'nggak apa-apa, nanti sembuh sendiri', bisa membuat penanganan pasien Corona menjadi terlambat.

Ketika seseorang terlambat mendapatkan penanganan, penyembuhan menjadi lebih sulit dan potensi kematian menjadi lebih besar. Sebaliknya, apabila seseorang mendapatkan penanganan medis ketika kondisinya belum parah, penyembuhan jadi lebih mudah.

"Harus kita pahami bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia biasanya baru pergi berobat ketika kondisinya sudah buruk. Mungkin, ketika gejalanya ringan, 'Ah nggak apa-apa ah, nanti sembuh sendiri,' atau, 'Cukuplah nanti kita minum obat warung.' Seperti itu," kata Dewi dalam diskusi yang disiarkan akun YouTube BNPB, Rabu (5/8).

"Kebanyakan kita temui pasien pasien di rumah sakit ini ketika kondisinya sudah memburuk baru datang ke rumah sakit. Nah, ketika datang ke rumah sakit, apalagi rumah sakitnya penuh atau banyak yang datang ke sana, ya pasti kan agak sulit ya untuk mana yang lebih dahulu untuk diprioritaskan," imbuh dia.

(zak/isa)