Round-Up

Kebiasaan Buruk 'Nanti Sembuh Sendiri' Bikin Kematian Corona Tinggi

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 08:01 WIB
Poster
Ilustrasi virus Corona (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Anggapan 'nanti sembuh sendiri' dalam kondisi badan yang tidak biasa memang kerap didengar di tengah masyarakat. Jangan salah, ternyata anggapan itu memicu angka kematian yang cukup tinggi, apalagi bagi pengidap virus Corona (COVID-19).

Telaah ini disampaikan oleh anggota Tim Pakar Satgas Penanganan COVID-19, Dewi Nur Aisyah, dalam diskusi yang disiarkan akun YouTube BNPB, Rabu (5/8/2020). Dewi menyinggung kebiasaan masyarakat Indonesia yang baru berobat ketika kondisi sudah buruk.

"Harus kita pahami bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia biasanya baru pergi berobat ketika kondisinya sudah buruk. Mungkin ketika gejalanya ringan, 'Ah nggak apa-apa ah, nanti sembuh sendiri,' atau, 'Cukuplah nanti kita minum obat warung.' Seperti itu," kata Dewi dalam diskusi.

Justru, menurut Dewi, anggapan yang keliru, seperti 'nggak apa-apa, nanti sembuh sendiri' bisa membuat penanganan pasien COVID-19 menjadi terlambat. Ketika seseorang terlambat mendapatkan penanganan, penyembuhan menjadi lebih sulit. Potensi kematian menjadi lebih besar. Sebaliknya, apabila seseorang mendapatkan penanganan medis ketika kondisinya belum parah, penyembuhan lebih mudah.

"Kebanyakan kita temui pasien pasien di rumah sakit ini ketika kondisinya sudah memburuk baru datang ke rumah sakit. Nah ketika datang ke rumah sakit apalagi rumah sakitnya penuh atau banyak yang datang ke sana ya pasti kan agak sulit ya untuk mana yang lebih dahulu untuk diprioritaskan," tuturnya.

Potensi kematian juga datang dari penyakit menular dan penyakit tidak menular yang ada di Indonesia. Misalnya hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung. Sebagai contoh, pada pasien yang punya penyakit hipertensi kemudian terjangkit COVID-19, potensi kematiannya menjadi lebih tinggi.

"Ketika dia punya kondisi penyerta kemudian terkena COVID-19, ini akan membuat kondisi pasien lebih memburuk. Ini juga yang mengakibatkan angka kematian yang tinggi karena angka penyakit tidak menular kita lebih tinggi," kata Dewi.

Selanjutnya
Halaman
1 2