Kisah Anak Buruh di Makassar Tak Punya Gawai untuk Belajar Daring

Muhammad Taufiqqurrahman - detikNews
Rabu, 05 Agu 2020 14:53 WIB
Rusli (12), seorang siswa SMP di Makassar memilih pergi ke sekolah saat -temannya yang lain belajar lewat sistem daring (Taufiq-detikcom).
Rusli (12), seorang siswa SMP di Makassar, memilih pergi ke sekolah saat -temannya yang lain belajar lewat sistem daring. (Taufiq/detikcom).
Makassar -

Rusli (12), seorang siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Makassar, memilih pergi ke sekolah pada saat teman-temannya yang lain belajar lewat sistem daring. Anak buruh ini meminjam komputer sekolah lantaran tidak memiliki gawai untuk belajar di rumah.

Rusli adalah siswa SMP 27 Makassar. Setiap pagi, dengan mengenakan seragam siswa bermotif batik dan celana pendek berwarna biru, ia berangkat ke sekolahnya. Di sekolah itu, Rusli meminjam komputer sekolah dan selanjutnya mengikuti pembelajaran dengan sistem daring.

"Dia sudah tiga hari ini masuk sekolah, karena kami tidak punya handphone untuk belajar online. Jadi dia datang ke sekolah belajar pakai komputer sekolah," kata ibu Rusli, Rusni daeng Baji (41), saat ditemui wartawan di Makassar, Rabu (5/8/2020).

Rusli (12), seorang siswa SMP di Makassar memilih pergi ke sekolah saat -temannya yang lain belajar lewat sistem daring (Taufiq-detikcom).Rusli (12), seorang siswa SMP di Makassar, memilih pergi ke sekolah saat temannya yang lain belajar lewat sistem daring. (Taufiq/detikcom)

Rusli adalah salah satu siswa dari ratusan siswa yang masuk ke SMP lewat jalur afirmasi prasejahtera. Ayahnya sehari-hari bekerja sebagai buruh harian dan ibunya fokus mengurus keluarga.

"Kami datang ke sekolah Senin kemarin, minta tolong ke sekolah karena anak kami tidak punya handphone. Alhamdulillah dikasih sama pihak sekolah belajar ini," ungkapnya.

Sementara itu, Rusli mengatakan dalam tiga hari terakhir dia akan belajar di laboratorium sekolah mulai pukul 08.00 Wita hingga pukul 12.00 Wita.

"Tidak ada HP-ku belajar, jadi saya datang ke sekolah belajar. Bapak saya tidak punya uang beli handphone," kata Rusli singkat.

Terpisah, pihak sekolah membenarkan bahwa Rusli datang bersama orang tuanya meminta bantuan fasilitas agar anak keduanya ini dapat belajar seperti dengan siswa lainnya.

"Dengan alasan tidak punya HP dan tidak ada tetangga yang didatangi untuk belajar daring bersama. Dengan pertimbangan beberapa teman guru bahwa yang bersangkutan berasal dari keluarga prasejahtera, akhirnya kita mengizinkan Rusli menggunakan fasilitas yang ada di lab ini," kata pegawai Kesiswaan dan Humas SMPN 27 Makassar, Naston.

"Jadi beberapa siswa kita memang ada anak tukang batu dan bentor. Untuk saat ini baru Rusli yang berinisiatif datang," imbuhnya.

(tfq/nvl)