Round-Up

Robek Amplop Perusahaan Penambang Isi Uang Berujung Pemeriksaan 3 Warga

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 04 Agu 2020 07:52 WIB
Direktur Ditpolair Polda Sulsel Kombes Hery Wiyanto (Hermawan-detikcom).
Foto: Direktur Ditpolair Polda Sulsel Kombes Hery Wiyanto (Hermawan-detikcom).

Amplop yang diberikan perusahaan kepada warga yang ikut survei lokasi penambangan pasir itu kemudian disobek oleh warga. Aksi perobekan kemudian terekam video dan tersebar di media sosial.

"Jadi waktu itu ada yang upload di Facebook, kemudian dari Facebook itu anggota ada yang mengetahui, ini merupakan tindak pidana mata uang, kemudian anggota membuat laporan polisi model A," jelanya.

Polisi kemudian menyeleidiki dugaan perusakan mata uang itu dan menemukan uang yang sudah rusak. Perusakan uang ini melanggar Pasal 25 UU Nomor 7 Tahun 2011 Tengang Mata Uang.

"Undang-undang mata uang, ancaman 5 tahun untuk merusak uang asli," tuturnya.

Sementara itu, warga Pulau Kodingareng bersama Walhi Sulawesi Selatan hari ini turut menggelar aksi di Direktorat Polair Polda Sulsel tempat ketiga warga diperiksa. Mereka menduga pemeriksaan tersebut sebagai upaya kriminalisasi nelayan yang selama ini menolak aktivitas penambangan pasir di sekitar Pulau Kodingareng.

"Menurut kami pemeriksaan ini merupakan bagian dari upaya kriminalisasi nelayan yang selama ini melakukan aksi penolakan terhadap tambang pasir laut yang dilakukan oleh PT B. Kemudian teman-teman ada di sini untuk memberikan support memberi dukungan bahwa apa yang disangkakan, apa yang didugakan kepada nelayan di Pulau Kodingareng itu tidak benar," ujar Direktur Walhi Sulsel Muhammad Al Amin saat ditemui di lokasi aksi.


(fas/isa)