Satgas Jelaskan Indikator Zonasi Corona, Termasuk Angka Kematian-Kesembuhan

Tim detikcom - detikNews
Senin, 03 Agu 2020 15:30 WIB
Poster
Ilustrasi virus Corona (Foto: Edi Wahyono)
Jakarta -

Satgas Penanganan COVID-19 menjelaskan indikator penentuan zonasi risiko virus Corona (COVID-19). Ada 15 indikator yang digunakan untuk menentukan suatu daerah masuk zona merah, oranye, kuning, atau hijau.

Tim Pakar Satgas COVID-19 Dewi Nur Aisyah menjelaskan 15 indikator itu terbagi dalam 3 pilar utama, yaitu 11 indikator epidemiologi, 2 indikator surveillance kesehatan masyarakat, dan 2 indikator pelayanan kesehatan. Titik tekannya ada di indikator epidemiologi, yaitu terkait penambahan jumlah kasus, jumlah suspek, angka penularan, hingga angka kematian dan kesembuhan dari kasus positif maupun suspek.

"Kita juga melihat dari jumlah orang yang dirawat di rumah sakit dan berstatus positif maupun jumlah orang yang dirawat di rumah sakit namun statusnya adalah suspek. Angka kesembuhan kita lihat, angka insidensi kita lihat, angka kematian per 100 ribu penduduk juga kita lihat. Kita juga melihat jumlah pemeriksaan spesimen per minggunya berapa, apakah ada kenaikan, kemudian kita juga melihat dari angka positivity rate yang ada di sana," kata Dewi dalam konferensi pers di YouTube BNPB, Senin (3/8/2020).

Untuk diketahui, per hari ini ada 53 daerah risiko tinggi, 185 daerah risiko sedang, 182 daerah risiko rendah, 51daerah tidak ada penambahan kasus baru, serta 43 daerah yang tidak terdampak Corona. Dewi juga menjelaskan lebih rinci soal angka kematian dan kesembuhan skala nasional.

Dewi mengatakan angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia terus menurun sejak awal pandemi di bulan Maret. Per 2 Agustus 2020, angka kematian di Indonesia menyentuh angka 4,7 persen.

"Mungkin di awal pernah maksimumnya sampai 9,34 persen yang positif dan dia meninggal. Tapi di bulan April ini turun rata-ratanya menjadi 8,64 (persen), di bulan Mei menjadi 6,68 sampai dengan yang terakhir nih di bulan Juli, dan per tanggal 2 Agustus kemarin ini turun menjadi 4,7 (persen). Tapi kita masih punya PR ya, harus tetap menurunkan angka kematian serendah-rendahnya dan angka kesembuhan harus kita tingkatkan," ujar Dewi.

Terkait angka kesembuhan, Dewi menyebut pemerintah menargetkan angka kesembuhan pasien COVID-19 80 hingga 90 persen. Menurutnya, progres angka kesembuhan pun juga menunjukkan hasil yang baik per tanggal 2 Agustus 2020.

"Pergerakannya sejak awal bulan Meret ini mungkin masih rendah, maksimumnya hanya 8,33 persen, di bulan April naik menjadi 9,79 (persen), bulan Mei ini cepat langsung 21,97 (persen), bulan Juni 37,19 (persen), dan terakhir bulan Juli rata-ratanya 51,11. Tapi per 2 Agustus kemarin ini kita udah tembus ke angka 61,79 persen. Jadi kita melihat ada progres kesembuhan yang cukup baik dari pasien-pasien positif COVID-19 di Indonesia," ungkapnya.

Dewi mengatakan setiap indikator itu diberikan bobot skor yang berbeda untuk mengukur kemampuan daerah menghapi pandemi Corona. Masyarakat bersama pemerintah daerah setempat dimintanya terus berupaya agar indikator di daerah tersebut menunjukkan angka yang baik sehingga zonasi daerah bisa bergerak ke risiko yang lebih rendah.

"Setiap indikator itu kita berikan scoring dan ada pembobotannya. Jadi masing-masing indikator punya bobot yang berbeda tergantung juga dari impact-nya. Angka kematian ini juga menunjukkan seberapa sigap pemerintah daerah dalam menangani pasien positif. Jadi ini juga bisa terlihat dan kita juga menganalisis, sebenarnya pasien yang meninggal itu karena apa sih?" jelas Dewi.

"Apa karena datang ke fasilitas pelayanan kesehatan sudah telat, atau kedua karena memang ada kondisi komorbidnya juga, atau ketiga kekurangan SDM di sana untuk membantu. Ini adalah bentuk-bentuk evaluasi lain ketika kita melihat ada apa nih dengan angka kematian yang tinggi," tuturnya.

(azr/fjp)