Bima Arya Sebut Oknum Tak Amanah Buat Pembangunan Masjid Agung Molor

Inkana Putri - detikNews
Kamis, 23 Jul 2020 16:47 WIB
Bima Arya
Foto: Pemkot Bogor
Jakarta -

Wali Kota Bogor Bima Arya menggelar Rapat Kerja IV Dewan Kemakmuran Masjid Agung Kota Bogor di Gedung PPIB, Jalan Raya Pajajaran, Bogor Timur. Bima mengatakan pembangunan Masjid Agung di kawasan Taman Topi dan Pasar Anyar akan mulai dilanjutkan tahun ini. Adapun pembangunan tersebut tertunda akibat ulah oknum yang tidak amanah.

"Masjid impian kita ini memang sudah tertunda beberapa tahun. Saya harus sampaikan bahwa karena ulah oknum yang tidak amanah sehingga terjadilah seperti ini. Mari kita doakan kepada oknum yang tidak amanah itu diberikan hidayah oleh Allah SWT," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (23/7/2020).Dalam rapat tersebut, Bima juga mengucapkan terima kasih kepada para pengurus, khususnya Ketua DKM Masjid Agung Dede Supriatna yang hingga saat ini masih sabar dan istiqomah menghadapi berbagai persoalan.

"Seperti Ustaz Dede sampaikan tadi, penundaan ini Insyaallah ada hikmahnya sehingga kita akan mendapatkan sistem yang lebih baik. Kita tidak pernah tahu skenario Allah untuk kita semua secara pasti. Yang menurut kita tidak baik, mungkin saja ternyata paling baik. Yang menurut kita baik, mungkin belum tentu. Mudah-mudahan kita berharap kita diberikan terbaik oleh Allah SWT untuk Kota Bogor," ujarnya.

Lebih lanjut, Bima menjelaskan satu fase yang sangat penting telah dilewati. Hasil kajian dari Kementerian PUPR menunjukkan ada sejumlah struktur bangunan yang harus dikuatkan lagi agar pembangunan tahap selanjutnya bisa mulai dikerjakan kembali.

"Masjid ini kan ternyata pembangunannya bermasalah dalam hal konstruksinya. Jadi kalau dilanjutkan tidak aman. Ada kesalahan-kesalahan di masa lalu. Setelah dikaji, kemudian kita mendapatkan rekomendasi, kita tahu apa yang harus dikerjakan, kita tahu apa yang harus diperbaiki. Ini yang paling penting karena tidak mungkin bisa beribadah dengan tenang ketika konstruksinya pun tidak aman. Dinas PUPR sudah mengerjakan itu," jelasnya.

Selain itu, ia menyampaikan keinginannya agar Masjid Agung terintegrasi dengan alun-alun yang akan dibangun di lahan eks-Taman Topi.

"Kami ingin itu menjadi satu nafas, satu irama, satu warna. Desain masjidnya harus bisa menyimbolkan menjadi ikon Kota Bogor, simbol perjalanan syiar Islam di Kota Bogor, simbol kebangkitan Islam dan sejarah Islam juga di Kota Bogor dari masa ke masa," ungkapnya.

Menurutnya, konsep desain milik pengurus DKM Masjid Agung sudah sangat baik, namun konsep tersebut perlu diselaraskan kembali. Pasalnya, perencanaan alun-alun memiliki anggaran yang berbeda dengan Masjid Agung.

"Karena ini perencanaan yang berbeda, antara masjid dan alun-alun yang coba disatukan. Alun-alun ini sebetulnya sudah ada desainnya, karena ini bantuan dari provinsi. Jadi skenario terbaik adalah izinkan saya melobi pak Gubernur, apabila anggaran diturunkan tahun depan, kita ingin desainnya menyesuaikan. Tentunya setiap perkembangan nanti akan dikomunikasikan kepada pengurus DKM agar selalu update," katanya.

Terkait pembangunan Masjid Agung, Kepala Dinas PUPR Kota Bogor Chusnul Rozaqi memprediksi proses pembangunan di tengah kondisi saat ini akan memakan waktu hingga dua tahun."Dari APBD Kota Bogor tahun dianggarkan Rp 8,1 miliar dan 2021 dianggarkan lagi sekitar Rp 15 miliar.

Penguatan struktur kita perbaiki maupun penyelesaian atap yang strukturnya terpisah dari yang sudah ada. Kita tinggal penguatan karena tidak melakukan pembongkaran tapi penguatan struktur yang ada. Kemudian nanti kita lelangkan untuk perencanaan redesign-nya itu. Pembangunannya kita sinergikan antara konsep alun-alun dengan masjid itu sendiri," pungkasnya. Di sisi lain, Dede menyambut baik gagasan Pemkot Bogor terkait keselarasan antara alun-alun dan masjid.

"Saya kira ini baik. Ibarat masjid adalah rumah, maka alun-alun itu sebagai halamannya menjadi satu kesatuan yang utuh," ujar Dede.
Dede juga mengatakan selama pembangunan berjalan, DKM akan berkoordinasi dengan Dinas PUPR terkait titik mana saja yang masih bisa dimanfaatkan oleh warga untuk beribadah.

"Jadi, tidak hanya memperhatikan kapasitas, tetapi estetikanya juga. Yang tak kalah penting konstruksinya harus kokoh sehingga beribadah nyaman dan aman. Faktanya Masjid Agung ada di tengah keramaian, sentra ekonomi ada pasar dan stasiun sehingga kehadiran Masjid Agung sangat dibutuhkan dan diharapkan bisa menjadi penyejuk," jelasnya.

(mul/ega)