Tinjau Masamba Pascabanjir, Kepala BNPB Cek Logistik-Sanitasi Pengungsi

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Jumat, 17 Jul 2020 19:11 WIB
Kepala BNPB Doni Monardo tinjau Masamba Pascabanjir
Kepala BNPB Doni Monardo meninjau Masamba pascabanjir. (Foto: dok. Istimewa)
Luwu Utara -

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo meninjau lokasi banjir bandang di Kota Masamba, Kabupaten Luwu Utara. Doni mengecek ketersediaan logistik pengungsi, sanitasi, hingga jalur Tans Sulawesi yang terputus.

Doni bersama Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah dan Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani sempat meninjau lewat udara wilayah hulu Sungai Masamba dan Sungai Radda dari helikopter. Setelahnya, Doni bersama rombongan menemui pengungsi di Desa Radda dan Kota Masamba, yang terdampak cukup parah akibat banjir bandang.

"Masyarakat yang memerlukan bantuan dalam kondisi tanggap darurat di tempat pengungsian, fasilitas logistiknya, penginapan, sanitasinya dukungan air, dan perlengkapan, terutama untuk ibu-ibu dan anak-anak. Demikian juga untuk wanita hamil, itu harus menjadi prioritas kita," kata Doni Monardo dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (17/7/2020).

BNPB juga meminjamkan satu unit helikopter untuk membantu distribusi logistik bagi pengungsi. Sebab, jalur darat untuk pengiriman logistik pengungsi masih terganggu setelah diterjang banjir bandang.

"Beberapa hari ke depan helikopter yang dibawa oleh BNPB selanjutnya akan digunakan oleh Pemerintah Kabupaten Luwu Utara dan Provinsi Sulawesi Selatan," sebutnya.

Selain kebutuhan pengungsi yang menjadi prioritas, Doni meminta infrastruktur yang rusak akibat banjir segera dipulihkan. Dia mengatakan BNPB bersama Kementerian PUPR, Pemprov Sulsel, dan Pemkab Luwu Utara mendapat tugas khusus dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mempercepat proses transportasi dan fasilitas publik segera pulih.

Terkait hasil pengamatan udara, Doni menyebut banjir bandang di Masamba disebabkan oleh hujan lebat dalam waktu yang singkat, yakni pada 12 dan 13 Juli lalu. Doni menyampaikan hasil pengamatannya. Ia menyebutkan dugaan atau analisis sementara terjadinya banjir bandang yang melanda Kota Masamba dan sekitarnya pada Senin (13/7) itu.

Dugaan pertama adalah curah hujan yang sangat besar. Sebab, tercatat intensitas hujan 250-300 mm dalam waktu yang sangat singkat pada 12 dan 13 Juli 2020. Doni juga melihat bekas longsoran akibat hujan di Gunung Lero dan Gunung Maganrang, yang menjadi sebab banjir bandang dari Sungai Masamba dan Sungai Radda.

"Kalau itu sudah lama, biasanya pasti melihat ada tutupan sebagian dengan tanaman perdu misalnya, tanaman rambat misalnya. Tetapi kita perhatikan jarak jauh itu belum ada tutupan artinya itu masih baru," jelas jenderal bintang TNI AD yang juga Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 tersebut.

Seperti diketahui, banjir bandang melanda Kota Masamba dan sekitarnya pada Senin (13/7). Sebanyak 30 warga dilaporkan meninggal dunia akibat peristiwa ini.

Selain itu, sebanyak 3.627 keluarga atau 14.483 jiwa mengungsi di tiga kecamatan yang tersebar di pengungsian di Kecamatan Sabbang, Baebunta, dan Masamba. Tercatat 10 unit rumah hanyut dan 213 lain tertimbun pasir yang bercampur lumpur.

"Sedangkan infrastruktur publik, satu kantor Koramil terendam air dan lumpur setinggi 1 meter. Selain itu, jembatan antardesa terputus dan jalan lintas provinsi tertimbun lumpur antara 1-4 meter. Beberapa akses jalan putus karena terendam lumpur tebal, sedangkan lahan pertanian yang rusak masih dalam proses pendataan," tutur Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati.

Alat berat juga telah diturunkan untuk pembersihan material lumpur di jalan trans Sulawesi Selatan-Sulawesi Tengah. Banjir bandang berdampak di enam kecamatan, yaitu Kecamatan Masamba, Sabbang, Baebunta, Baebunta Selatan, Malangke, dan Malangke Barat.

(nvl/elz)