Banjir Bandang Masamba, Bupati Lutra Tepis Ada Pembukaan Lahan di Hulu

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Jumat, 17 Jul 2020 11:13 WIB
Kota Masama, Luwu Utara masih tertutup lumpur pasca diterjang banjir bandang (dok. Istimewa).
Foto: Wilayah hulu Sungai Masamba dan Sungai Radda (dok. Istimewa).
Masamba -

Banjir bandang yang menerjang Kota Masamba, Luwu Utara pada Senin (13/7) lalu diduga karena maraknya pembukaan lahan di wilayah hulu. Bupati Luwu Utara (Lutra) Indah Putri Indriani menepis pandangan tersebut.

"Berdasarkan laporan dari KPH (Kesatuan Pengelola Hutan) Sungai Rongkong dan Dinas Lingkungan Hidup itu memang ditemukan ada dua gunung yang ditemukan longsor," ujar Indah dalam keterangannya yang diterima detikcom, Jumat (17/7/2020).

Bupati Luwu Utara Indah Putri IndrianiBupati Luwu Utara Indah Putri Indriani Foto: Dok. Pribadi via FB

Gunung yang dimaksud ialah kawasan perbukitan di wilayah Lero dan Gunung Magandang. Longsor di wilayah tersebut menjadi sebab banjir di wilayah Kota Masamba dan kecamatan lainnya khususnya Desa Radda.

"Gunung Lero kemudian materialnya itu turun ke Sungai Radda, kemudian Gunung Magandang itu yang materialnya ke Sungai Masamba," kata Indah.

Meski ada terjadi longsor di wilayah hulu, Indah memastikan tidak ada izin dari Pemkab Lutra untuk pembukaan lahan di wilayah tersebut.

"Jadi di atas tidak ada sama sekali pembukaan lahan sebagaimana informasi yang beredar selama ini, bahwa ada bangunan, ada izin tambang. Kami bisa pastikan bahwa tidak ada izin perkebunan dan tambang di wilayah hulu sungai ini (Sungai Masamba dan Sungai Radda)," imbuhnya.

Pandangan terjadinya longsor akibat pembukaan lahan di wilayah hulu tersebut salah satunya dipaparkan Kepala Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin Prof. Dr.Eng. Ir. Adi Maulana, ST.M.Phil dalam catatannya berjudul 'Duka Untuk Masamba' seperti yang diterima detikcom, Rabu (15/7).

Guru Besar Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin ini menjelaskan, terdapat setidaknya 3 sungai besar dan beberapa sungai kecil yang mengalir memotong daerah Masamba dari utara ke selatan. Sungai-sungai ini terbentuk oleh akibat patahan-patahan atau sesar sekitar Pliosen atau 2 juta tahun yang lalu.

Patahan-patahan ini terjadi akibat proses tektonik pembentukan Pulau Sulawesi, dan seiring waktu patahan-patahan tersebut membentuk aliran sungai.

"Di daerah hulu, proses pelapukan sangat intens terjadi. Hal ini dibuktikan dengan tebalnya soil atau tanah tutupan yang mencapai 5-7 km. Hasil penelitian yang dilakukan oleh UNHAS menemukan ketebalan soil bisa mencapai 8 meter dititik tertentu," jelasnya.

"Banyaknya aktifitas pembukaan lahan-lahan untuk perkebunan dan permukiman yang tidak terkontrol di wilayah pegunungan atau hulu sungai menyebabkan terjadinya proses erosi yang sangat signifikan, dan akibatnya terjadi proses sedimentasi pada sungai yang tinggi. Kondisi ini menyebabkan kondisi sungai secara umum terganggu," lanjutnya.

Tonton video 'Penampakan Sisa Keganasan Banjir Bandang di Luwu Utara':

(nvl/idh)