Menkes Pastikan Rumah Sakit Tak Jadi Ladang Bisnis di Masa Pandemi Corona

Muhammad Risanta - detikNews
Jumat, 17 Jul 2020 19:01 WIB
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (kanan) berbincang dengan anggota DPR Dewi Asmara saat akan mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (11/6/2020). Rapat yang juga diikuti Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy itu membahas penanggulangan defisit dana jaminan sosial BPJS Kesehatan dan perbaikan tata kelola sistem layanan kesehatan. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww.
Menkes Terawan (Aditya Pradana Putra/Antara)
Banjarmasin -

Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto menegaskan rumah sakit di Indonesia memiliki etika dan tidak menjadi lahan bisnis dalam penanganan pandemi COVID-19. Terawan memastikan rumah sakit di Indonesia bekerja dengan baik.

"Saya percaya rumah-rumah sakit punya etika yang baik. Semua punya keinginan yang baik untuk memberikan pelayanan dan melaporkan-menagih, kan. Kami tinggal verifikasi lewat BPJS," ujar Terawan saat menjawab tudingan bahwa selama pandemi ada sejumlah rumah sakit yang berubah jadi ladang bisnis dalam penanganan COVID-19 di Tower 8 RSUD Ulin, Banjarmasin, Jumat (17/7/2020).

Terawan mengaku akan mengecek terkait dugaan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar tidak berkembang dan menimbulkan masalah yang menyangkut kredibilitas dan kepercayaan publik akan layanan kesehatan.

"Tidak boleh berdasarkan opini. Nanti kami akan cek semua, semua harus berdasarkan data dan fakta," ujar Terawan.

Terawan melakukan kunjungan ke Banjarmasin dalam rangka penyerahan santunan Rp 300 juta kepada keluarga tenaga medis yang gugur saat menangani Corona. Dalam penyerahan santunan ini, Terawan juga meminta agar seluruh pelayanan kesehatan mengikuti SOP Corona yang telah ditetapkan.

Sebelumnya, Menkes Terawan sempat dicecar oleh pimpinan Banggar DPR RI Said Abdullah saat rapat Banggar DPR, Jakarta, Rabu (15/7). Said menyampaikan tindakan 'nakal' rumah sakit (RS) di masa pandemi virus Corona. Dia mencontohkan ada masyarakat yang terkena diabetes selama tiga tahun, tapi setelah meninggal dunia dinyatakan karena COVID-19.

"Telisik punya telisik, kalau dinyatakan COVID, anggarannya lebih besar," ujar Said dalam rapat itu.

(zap/gbr)