Analisis Sosiolog Kenapa Ada Orang Tak Percaya Bahaya Corona

Datuk Haris Molana - detikNews
Jumat, 17 Jul 2020 16:20 WIB
Poster
Ilustrasi Corona (Foto: Edi Wahyono-detikcom)
Medan -

COVID-19 merebak di berbagai negara, termasuk Indonesia, di mana ada 83.130 orang yang dinyatakan positif dan 3.957 orang di antaranya meninggal dunia. Namun, masih ada orang yang tak percaya dengan bahaya virus ini, mengapa?

Kepala Laboratorium Departemen Ilmu Sosiologi Universitas Sumatera Utara (USU), Muba Simanihuruk, punya analisis sendiri soal fenomena ini. Dia mengawali penjelasan soal masyarakat yang percaya dengan hoax dan konspirasi di balik COVID-19.

"Hoax dan konspirasi terjadinya Corona merasuki dan dianggap kebenaran. Refleksi budaya dan perilaku fatalistik dan escapisme sebagian masyarakat," kata Muba, Jumat (17/7/2020).

Dia kemudian mengambil contoh beberapa tokoh yang kerap memberi seakan menganggap remeh bahaya COVID-19, seperti Presiden Brasil Jair Bolsonaro, Presiden AS Donald Trump hingga musisi Jerinx. Dia menilai masyarakat yang menganggap remeh Corona terjadi karena merasa kecil kemungkinan dirinya terpapar virus yang pertama kali merebak di Wuhan, China itu.

"Jerinx, Presiden Brasil dan Presiden AS juga kurang percaya dampak bahaya Corona. Masyarakat, termasuk Jerinx, merasa yakin kecil kemungkinan terpapar Corona, lihat riset Nanyang University di Jatim dan DKI," ujar Muba.

Dia mengatakan saat ini masyarakat yang tak percaya Corona disebabkan era post-truth politics di mana hoax atau teori konspirasi disampaikan berulang-ulang hingga diyakini sebagian masyarakat sebagai kebenaran. Padahal, hal ini bisa membuat penyebaran Corona meluas dan kepercayaan masyarakat pada pemerintah ambruk.

"Ini era post-truth politics. Kebohongan yang diulang-ulang masif lewat hoax dan teori konspirasi diyakini sebagian masyarakat sebagai kebenaran. Mastermind di belakang ini tentu lebih jauh lagi. Agar dokter dan pemerintah kurang, bahkan tidak dipercayai lagi. Implikasinya korban Corona meningkat dan kepercayaan pada pemerintah ambruk. Skenario terburuknya kerusuhan sosial dan pembangkangan sosial," tutur Muba.

Muba mengimbau warga belajar mencari informasi dari sumber resmi atau ahli yang terpercaya soal COVID-19. Dia juga menyarankan pemerintah memaksimalkan peran tokoh agama, adat hingga selebriti untuk melakukan pendidikan soal bahaya COVID-19.

Terbaru, musisi Jerinx mengunggah foto yang memperlihatkan sosok dr Indra Yovi. Foto itu juga menampilkan ucapan dr Yovi 'Kalau tidak percaya COVID-19, boleh coba masuk ruang isolasi tanpa APD'.

Selanjutnya
Halaman
1 2