Mengapa Ada Perubahan Sikap Soal Pemakaian Masker di Dunia?

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 15 Jul 2020 17:53 WIB
Donald Trump dan Boris Johnson tampil menggunakan masker di depan umum. (Reuters/Andrew Parsons Media)
Jakarta -

Beberapa hari lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson terlihat memakai masker di depan publik untuk pertama kalinya.

Ini adalah perubahan yang drastis - Trump sebelumnya mengolok-olok orang yang mengenakan masker. Trump bahkan menyatakan beberapa di antara mereka yang menggunakan alat pelindung diri mungkin memakainya untuk menunjukkan ketidaksetujuan terhadap dirinya.

Pernyataan ini dilontarkan setelah Pusat Pengendalian Penyakit AS merekomendasikan penggunaan masker.

Sementara itu, pemerintah Inggris awalnya enggan menyarankan masyarakat untuk memakai masker, seperti negara-negara lain di Eropa.

Inggris lalu memberlakukan aturan yang mengharuskan orang untuk memakai masker saat menumpang alat transportasi publik pada Juni dan sekarang menyatakan warga Inggris harus mengenakan masker di toko-toko.

Jika mereka menolak, mereka akan didenda.

Secara global, banyak pihak berwenang - termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) - pada awalnya menyarankan bahwa masker tidak efektif dalam mencegah penyebaran virus corona.

Namun, mereka sekarang merekomendasikan masker di ruang-ruang tertutup, dan banyak pemerintah bahkan mewajibkannya.

Apa saja yang telah berubah dan mengapa?

Masker

Semakin banyak negara yang meminta warga mengenakan masker. (PA Media)

Jumlah negara yang merekomendasikan penggunaan masker telah meningkat secara signifikan dalam enam bulan terakhir.

Pada pertengahan Maret, sekitar 10 negara memiliki kebijakan yang merekomendasikan masker - sekarang lebih dari 130 negara dan 20 negara bagian AS melakukannya, kata Masks4All, kelompok aktivis peneliti yang menganjurkan penggunaan masker buatan sendiri selama pandemi.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa sikap masyarakat telah berubah.

"Negara-negara yang warganya tidak memiliki sejarah mengenakan masker atau penutup wajah secara cepat mengadopsi penggunaannya seperti di Italia (83,4%), Amerika Serikat (65,8%) dan Spanyol (63,8%)," kata sebuah laporan oleh Royal Society - salah satu badan sains terkemuka di Inggris.

Perubahan tampaknya sebagian karena pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana Covid-19 menyebar.

Awalnya, WHO mengatakan masker hanya boleh dipakai oleh petugas medis, atau orang yang memiliki gejala seperti batuk dan bersin.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, ada peningkatan bukti bahwa banyak orang terjangkit Covid-19 tanpa gejala, dan masker dapat menghentikan mereka dari menularkannya ke orang lain.

WHO mengubah pedomannya pada bulan Juni.

Sementara itu, ada peningkatan kesadaran akan risiko penularan lebih tinggi di ruang tertutup dengan ventilasi buruk - dan bukti yang menunjukkan bahwa virus dapat disebarkan oleh partikel-partikel kecil yang melayang di udara.

Ini berarti jika semua orang memakai masker, mereka akan "terlindungi dari mode penularan yang paling umum, droplet atau cipratan, kata Kim Lavoie, ahli perilaku kesehatan dari jurusan psikologi Universitas Quebec di Montreal.

Lavoie menambahkan bahwa "telah terjadi peningkatan penelitian" tentang masker, termasuk studi pengamatan yang menunjukkan "negara-negara dengan penggunaan masker tampaknya memiliki tingkat infeksi yang lebih rendah".

Selain itu, sejumlah ilmuwan sekarang mengatakan ada "beberapa bukti" bahwa masker dapat melindungi pemakainya serta orang-orang di sekitarnya.

Ada juga peningkatan pemahaman bahwa pandemi dapat berlanjut untuk waktu yang lama - dan, jika demikian, masker dapat dilihat sebagai sesuatu yang diperlukan untuk membantu orang beradaptasi, dan mengurangi risiko ketika bisnis dan sekolah dibuka kembali.

"Covid-19 tidak ke mana-mana - kami mungkin akan memiliki vaksin dalam beberapa tahun, bukan bulan," kata Lavoie, yang telah memimpin iCARES, sebuah studi internasional tentang perilaku terkait Covid-19.

"Jadi semua prinsip ini perlu diintegrasikan dan disesuaikan dengan kehidupan normal yang baru."

Mengapa negara-negara memiliki perbedaan perilaku?

Bahkan ketika kebijakan pemerintah telah berubah, ada kesenjangan besar mengenai bagaimana orang mau memakai masker.

Sekitar 83% orang di Italia, dan 59% di AS, mengatakan mereka akan selalu memakai masker di luar rumah- tetapi hanya 19% orang di Inggris mengatakan hal yang sama, menurut Covid-19 Behavior Tracker - proyek yang dijalankan oleh Institut Inovasi Kesehatan Global di Imperial College London dengan YouGov, lembaga jajak pendapat.

"AS, Inggris, dan Kanada relatif lambat dalam mempercepat pemakaian masker dibandingkan, misalnya, Spanyol, Prancis, dan Italia," kata Sarah P Jones, seorang peneliti perilaku kesehatan di Imperial College London dan dan pembuat survei YouGov.

covid 19, masker, virus coronaBBC

Dia mengatakan keinginan memakai masker bervariasi berdasarkan pada seberapa rentan orang merasakan suatu penyakit, apakah mereka percaya biayanya lebih besar daripada manfaatnya, dan seberapa mudah masker didapatkan.

Di negara-negara dengan kenaikan tajam penggunaan masker, orang mungkin mengalami "peningkatan cepat dalam persepsi tingkat keparahan dan kerentanan", "perubahan kebijakan yang cepat yang mengharuskan penggunaan masker", dan perasaan bahwa "saya melihat banyak orang lain melakukannya, jadi itu tidak masalah untuk memakai masker".

Kim Lavoie, ahli perilaku kesehatan dari jurusan psikologi Universitas Quebec di Montreal setuju bahwa tempat-tempat yang "dihantam wabah", seperti Italia, mungkin lebih mudah mendorong orang untuk memakai masker.

Masyarakat di negara-negara yang mengalami pandemi SARS 2003 - atau wabah pernapasan lainnya - lebih siap untuk mulai memakai masker.

"Di Asia Timur, ada banyak memori pandemi pernapasan, dan kesadaran budaya bahwa masker adalah ide yang baik," kata Jeremy Howard, seorang ilmuwan dan peneliti di University of San Francisco, dan salah satu pendiri Masks4All.

Sebaliknya, "tidak ada sejarah pandemi pernapasan baru-baru ini di Barat" dan banyak lembaga Barat dan internasional "hampir seluruhnya mengabaikan ilmuwan Asia Timur".

covid 19, masker, virus coronaMasyarakat di Asia Timur dinilai lebih cepat merespon arahan penggunaan masker. (Reuters)

Banyak negara sangat berhati-hati dalam merekomendasikan masker karena kurangnya uji klinis yang membuktikan keefektifannya, kata laporan Royal Society di Inggris.

Di sisi lain, "belum ada uji klinis batuk pada siku Anda, jarak sosial dan karantina, namun langkah-langkah ini dipandang efektif dan telah diadopsi secara luas," tambahnya.

Mengapa masih ada yang enggan menggunakan masker?

Mayoritas negara sekarang merekomendasikan penggunaan masker dalam beberapa situasi.

Namun, sebagian besar orang tampaknya masih lebih bersedia menggunakan pembersih tangan, menjaga jarak sosial atau mencuci tangan secara teratur, daripada memakai masker, menurut data dari Covid-19 Behavior Tracker, dan iCARES.

Orang-orang merasa bahwa mencuci tangan dan menjaga jarak adalah hal-hal yang dapat dengan mudah mereka kendalikan, kata Lavoie.

Sebaliknya, "mengenakan masker sedikit lebih rumit - Anda harus menemukan dan membeli masker, mengenakannya dan membuangnya dengan cara tertentu, dan masker tidak nyaman untuk dipakai."

Dan perubahan pedoman WHO serta banyak negara dapat menyebabkan kesulitan.

Banyak ahli percaya bahwa pemerintah enggan merekomendasikan masker karena mereka khawatir akan ada kekurangan peralatan APD untuk pekerja medis - tetapi dengan sempat menyatakan masker tidak efektif dalam mencegah transmisi, mereka sekarang terdengar tidak konsisten.

"Pesan yang tidak konsisten, tidak transparan tentang data, atau bagaimana pemerintah membuat keputusan kebijakan tertentu, dapat merusak kepercayaan" dan membuatnya lebih sulit untuk meyakinkan orang untuk memakai masker saat ini," kata ahli perilaku kesehatan, Lavoie.

Jeremy Howard, ilmuwan dan peneliti di University of San Francisco percaya bahwa banyak pemerintah negara-negara Barat lambat bertindak mengenai masker sampai mereka sangat terpengaruh oleh pandemi.

Meskipun demikian, ia berpikir bahwa Boris Johnson dan Donald Trump dapat memiliki dampak positif dengan mengenakan masker di depan umum.

"Contoh dari pemimpin itu penting," katanya, dan sejak Trump mengenakan masker, "banyak orang yang sebelumnya anti-masker sekarang mengatakan bahwa itu adalah hal patriotik baginya untuk dilakukan."

Ini sangat penting karena kini AS sedang mengalami gelombang infeksi baru, tambahnya.

(ita/ita)