Istri Djoko Tjandra Menang dalam Tempo 56 Hari di MK

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 17 Jul 2020 14:45 WIB
Kegiatan di Mahkamah Konstitusi (MK) nampak berjalan normal seperti biasa. Rencananya, BPN Prabowo-Sandiaga akan menyampaikan gugatan Pemilu hari ini.
Gedung MK (Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta -

Istri Djoko Tjandra, Anna Boentaran, menang di MK dalam waktu 56 hari, saat sidang lain bisa memakan waktu berbulan-bulan. MK punya penjelasan.

Latar belakangnya, Djoko dilepaskan oleh PN Jaksel dan di tingkat kasasi dalam kasus pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali. Jaksa, yang tidak terima, mengajukan PK dan dikabulkan MA. Djoko dinyatakan terbukti turut serta melakukan tindak pidana korupsi dan dijatuhi pidana 2 tahun penjara.

Oleh sebab itu, Anna mengajukan permohonan penafsiran ke MK bahwa jaksa tidak berhak mengajukan PK. Berikut ini sidang supercepat yang digelar MK sebagaimana dikutip dari putusan MK Nomor 33/PUU-XIV/2016, Jumat (17/7/2020):

17 Maret 2016

Anna mendaftarkan judicial review di MK dengan penerimaan berkas permohonan Nomor 55/PAN.MK/2016. Anna memberikan kuasa permohonan itu Kantor Hukum Syamsu Hamid & Partners. Anna meminta MK menafsirkan Pasal 263 ayat 1 KUHAP. Pasal itu berbunyi:

Terhadap putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, kecuali putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum, terpidana atau ahli warisnya dapat mengajukan permintaan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung.

Anna meminta pasal itu ditafsirkan bahwa jaksa tidak berwenang mengajukan peninjauan kembali (PK).

21 Maret 2016

Permohonan itu telah dicatat dalam buku registrasi perkara konstitusi dengan Nomor 33/PUU-XIV/2016

4 April 2016

Anna memperbaiki permohonan.

12 Mei 2016

Setelah 56 hari melakukan proses, MK memenangkan Anna. Dalam putusan MK itu, tidak tertulis adanya jawaban pemerintah/DPR atau kejaksaan sebagai pihak terkait. Tidak pula ada tercantum apakah ada ahli yang memberikan keterangan di persidangan MK atau tidak.

"Mengabulkan permohonan Pemohon. Pasal 263 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209) bertentangan dengan UUD 1945 secara bersyarat, yaitu sepanjang dimaknai lain selain yang secara eksplisit tersurat dalam norma a quo," demikian bunyi Putusan MK.

Menurut MK, ketika peninjauan kembali yang diajukan oleh jaksa/penuntut umum diterima, sesungguhnya telah terjadi dua pelanggaran prinsip dari peninjauan kembali itu sendiri. Pertama, pelanggaran terhadap subjek dan objek peninjauan kembali. Dikatakan ada pelanggaran terhadap subjek karena subjek peninjauan kembali menurut undang-undang adalah terpidana atau ahli warisnya.

"Sementara itu, dikatakan ada pelanggaran terhadap objek karena terhadap putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum tidak dapat dijadikan objek peninjauan kembali," papar MK.

6 Mei 2016

Putusan MK itu membuat geger. Jaksa Agung saat itu, Prasetyo, menegaskan tetap akan mengajukan PK meski hal itu sudah dilarang oleh MK. Kejaksaan berpegang pada yurisprudensi dari Mahkamah Agung (MA).

"MA memberi akses untuk kita memberikan PK dari putusan yang mereka keluarkan atau yurisprudensi. Ke depan, kami akan tetap ajukan PK karena jaksa mewakili kepentingan korban kejahatan dan negara," kata Prasetyo.

Juni 2020

Djoko Tjandra yang statusnya buron datang ke PN Jaksel mendaftarkan PK.

1 Juli 2020

Kuasa hukum Djoko, Andi Putra Kusuma, mengatakan Djoko Tjandra mendaftar langsung ke PN Jakarta Selatan melalui pelayanan terpadu satu pintu (PTSP). Salah satu bukti PK adalah putusan MK di atas.

"Kita mengajukan PK dasarnya itu ada karena dua putusan yang bertentangan. Di satu sisi putusan PK Nomor 12 pertimbangannya itu dikabulkan dianggap jaksa berwenang mengajukan PK atas pertimbangan jaksa tidak ada aturan yang jelas bahwa jaksa tidak boleh mengajukan PK, sedangkan di dalam putusan MK Nomor 33 itu jelas disebutkan tidak ada pihak lain selain terpidana maupun ahli warisnya yang dapat mengajukan PK," ungkap Andi di kantornya, Jalan TB Simatupang, Cilandak.

Satu per satu, pelarian Djoko Tjandra terungkap dan bikin geger jagat hukum Indonesia.

Tonton video 'Kuasa Hukum Djoko Tjandra Datangi Bareskrim Polri, Ada Apa?':

Selanjutnya
Halaman
1 2