Kemenag: Peran Tokoh Agama Penting dan Strategis Bantu Tangani Corona

ADVERTISEMENT

Kemenag: Peran Tokoh Agama Penting dan Strategis Bantu Tangani Corona

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 14 Jul 2020 16:01 WIB
Ilustrasi Salam Semua Agama (Andhika Akbarayansyah)
Foto Ilustrasi (Andhika Akbarayansyah/detikcom)

Tokoh Agama Yakin Ada Hikmah dari Pandemi Corona

Sementara itu, Ketum Persatuan Gereja-gereja Indonesia, Pdt Gomar Gultom mengingatkan bahwa pandemi ini bukanlah akhir dari segalanya. Gultom lantas meminta seluruh negara bekerja sama, bersatu untuk menemukan vaksin dan menyelesaikan pandemi ini.

"Pandemi ini bukan kata akhir, pandemi bukan sesuatu yang harus diaminkan dan diterima gitu saja. Ini adalah konstruksi yang terjadi karena perilaku-perilaku di masalah lalu," katanya.

"Pentingnya sekarang ini dan ke depan mendorong semua antar-negara untuk menemukan virus atau vaksin, serta mengupayakan, memotivasi negara-negara dalam kerja sama itu, untuk juga menciptakan sistem distribusi global yang adil dan merata, sehingga vaksin mudah dijangkau semua orang dan tidak dikuasi oleh sekelompok kepentingan tertentu," tegas Gultom.

Menegaskan pernyataan Pdt Gultom, Ketum Parisada Hindu Dharma Indonesia, Mayjen Purn Wisnu Bawa Tenaya mengingatkan Corona ini bukan akhir dari semuanya. Wisnu yakin Corona akan selesai.

"Yakinlah virus ini akan berakhir seperti ruang, kadang-kadang di langit ada hujan, ada petir. Mari kita berdoa kepada Tuhan yang maha kuasa, semoga virus cepat berlalu," tegas Wisnu.

Sama dengan Wisnu, Ketua Perwalian Umat Budha Indonesia, Siti Hartati Murdaya, menilai di balik pandemi ini pasti ada hikmah yang bisa diambil. Seluruh umat beragama diminta belajar dari pandemi ini.

"Di balik bencana ini, mungkin ada juga berkah yang terselubung, yaitu bisa menjadi semakin prihatin, saling mengasihani, saling tidak berdaya, 'mengapa saya menjadi orang tidak berguna semua di dunia ini', tidak ada yang sempurna, diri kita juga nggak sempurna, kita punya kesalahan, kita punya kelemahan. Tentunya, kita sendiri juga harus belajar, gimana mengasihi, memaafkan. Manusia tak ada sempurna, sempurna milik Tuhan," kata Siti.

Terakhir, Majelis tinggi Agama Konghuchu Indonesia, Budi Santoso Tanuwibowo meminta setiap umat beragama sabar menghadapi cobaan pandemi. Dia meminta agar umat tidak menganggap pandemi ini sebagai hukuman Tuhan untuk manusia.

"Jadi saatnya agama-agama ke atas itu tidak sekedar memuja beliau. Kalau ada sesuatu yang bagus sekan-akan rahmat, kalau ada yang nggak bagus kayak COVID ini seakan-akan hukuman. Bukan lebih baik kita lakukan refleksi diri, apa yang keliru dan menyimpang dari ajaran dan petuah-Nya," tutur Budi.


(zap/hri)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT