Pemerintah Akui Diksi New Normal Salah, KSP: Bahasa Asing, Susah Dipahami

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Sabtu, 11 Jul 2020 14:05 WIB
Poster
Ilustrasi beraktivitas di masa pandemi Corona. (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Tenaga Ahli Utama KSP Brian Sriphastuti mengatakan istilah 'new normal' mengandung bahasa asing sehingga sulit untuk dipahami. Karena itu, istilah tersebut diganti dengan 'adaptasi kebiasaan baru'.

"Pemahaman menggunakan kata 'new normal' sendiri, karena ada unsur bahasa asingnya, kemudian tidak mudah untuk dipahami, diterjemahkan memang sebagai, adaptasi kebiasaan baru," kata Brian dalam diskusi Polemik bertajuk 'COVID-19 dan Ketidaknormalan Baru' yang disiarkan dalam YouTube MNC Trijaya pada Sabtu (11/7/2020).

Brian menjelaskan yang ditekankan dalam istilah 'adaptasi kebiasaan baru' bukan situasi di masa pandemi COVID-19. Namun, penekanannya, kata Brian, lebih ke perilaku yang dapat membatasi penyebaran virus Corona.

"Jadi yang ditonjolkan di sini bukan situasinya tapi perilaku kita yang harus disesuaikan dengan situasi yang terjadi. Perilaku yang bisa membatasi atau menghindari transmisi persebaran lebih lanjut dari orang ke orang supaya tidak terinfeksi atau terpapar virus ini," ucap Brian.

Lebih lanjut, Brian mengatakan masih ada masyarakat yang menganggap istilah 'new normal' sebagai fase normal sebelum terjadi pandemi. Padahal, menurut Brian, sebelum Indonesia masuk ke fase 'new normal', sudah ada pengaturan protokol kesehatan yang diterapkan di masyarakat.

"Kan sudah jelas tuh perkataannya new normal, tapi kemudian orang tidak melihat kata 'new'-nya itu, sudah ujug-ujug ke normal. Padahal sebelum menuju ke new normal pun ada periode pra-kondisi, jadi ada tahapan-tahapan yang harus dipersiapkan mulai dari masyarakat," ujar Brian.

Menurut Brian, fase pra-kondisi sebelum masuk ke fase 'new normal' masih belum benar-benar dilakukan. Brian kemudian meminta masyarakat dapat menerima kenyataan bahwa pandemi COVID-19 masih terjadi di Indonesia.

"Nah itu tampaknya pra-kondisi itu tidak dilakukan, kemudian orang sudah berpikir ini akan seperti pada saat seperti sebelum pandemi terjadi. Padahal kondisinya tidak seperti itu, kita harus menerima fakta bahwa virus ini masih ada di sekitar kita," tutur Brian.

Selanjutnya
Halaman
1 2