Urai Kepadatan di Stasiun Bogor, KRL Akan Operasi Sejak Jam 3 Pagi

Angga Laraspati - detikNews
Jumat, 10 Jul 2020 22:05 WIB
Bima Arya
Foto: Pemkot Bogor
Jakarta -

Dalam upaya mengurai kepadatan penumpang di Stasiun Bogor, Wali Kota Bogor Bima Arya telah melakukan rapat koordinasi dipimpin oleh Menko Maritim Pak Luhut, dihadiri oleh Menteri Perhubungan, Menpan-RB dan juga Menparekraf serta Gubernur Jakarta menindaklanjuti persoalan yang terjadi.

Dalam rapat koordinasi melalui saluran video conference tersebut disampaikan bahwa kondisi tidak memungkinkan untuk menambah kapasitas gerbong karena situasi masih belum aman dan terbukti masih ditemukannya pasien positif di KRL.

Memang pemerintah belum bisa menambah kapasitas KRL yang saat ini dibatasi sekitar 35 persen per gerbong akibat adanya laporan dua penumpang KRL yang terkonfirmasi positif COVID-19 saat melakukan swab test di Stasiun Bogor. Adapun untuk menanggapi hal tersebut, Bima mengatakan ada penambahan jadwal keberangkatan KRL.

"Karena itu yang dilakukan pertama adalah menambah jadwal KRL. Ada dua jadwal yang berangkat lebih pagi dari Stasiun Bogor, yakni di jam 03.15 dan 03.30 WIB setiap harinya," ungkap Bima dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7/2020).

Tidak hanya itu, layanan bus juga akan ditambah, jadi ada 150 bus totalnya yang akan disiapkan mulai Senin besok, terdiri dari 75 unit dari Kemenhub dan 75 unit dari Pemprov DKI Jakarta.

"10 bus di antaranya akan berangkat dari pool bus Damri di samping Botani. Sisanya, 140 bus akan berangkat dari stasiun Bogor," tutur Bima.

Bus gratis yang berangkat dari Stasiun Bogor untuk mengangkut penumpang ke titik tujuan Sudirman, Tanah Abang, Juanda, Manggarai dan Tebet. Sementara bus yang berangkat dari Pool Damri memiliki tujuan Sudirman dan Juanda. Hal ini diharapkan dapat mengurai kepadatan yang terjadi di Stasiun Bogor.

"Karena hitung-hitungan kami, lonjakan penumpangan di pagi hari ini masih bisa dicairkan apabila busnya ditambah. Berdasarkan kesepakatan juga kapasitas bus akan ditambah, jadi sampai 70 persen. Kira-kira ada 40 penumpang kapasitas dalam satu bus," imbuh Bima.

"Kalau 40x150 berarti ada sekitar 6.000-an penumpang yang bisa terangkut. Ini mudah-mudahan bisa mencairkan kepadatan," tambahnya.

Bima melanjutkan, sebagai langkah antisipasi dan preventif, Pemkot Bogor terus menggencarkan swab test di stasiun, terminal dan tempat publik lainnya. Seperti yang dilakukan pada aari ini, ada 250 test swab yang dilakukan. Setiap minggu juga akan digencarkan, terminal, stasiun dan tempat-tempat umum untuk mendeteksi secara dini potensi penularan COVID-19.

"Disampaikan juga masukan dari Pemkot Bogor tentang evaluasi shift kerja di Jakarta. Jadi, ini akan kembali dikaji oleh Menpan RB dan Gubernur Jakarta karena shift ini masih belum berjalan secara maksimal," tambahnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Sri Nowo Retno menyatakan, dua orang yang terkonfirmasi positif dari hasil swab test di Stasiun Bogor belum lama ini sudah dilakukan tracing oleh Unit Lacak pada Detektif COVID-19.

"Dari 155 swab, kami sudah terima hasil 149. Dua dinyatakan positif, enam lagi hasilnya belum keluar. Untuk yang dua positif merupakan warga Kota Bogor yang kerja di Jakarta dan sudah dilakukan tracing. Setiap hari mereka menggunakan moda transportasi KRL," pungkasnya.


(mul/ega)