Kasus Corona di Kalteng 1.096, Jokowi: Harus Disetop Jangan Tambah Lagi

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 09 Jul 2020 18:12 WIB
Presiden Jokowi saat ratas percepatan penyerapan anggaran. (Foto: Biro Pers Setpres)
Foto: Presiden Jokowi saat ratas percepatan penyerapan anggaran. (Foto: Biro Pers Setpres)
Jakarta -

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID‑19 menyampaikan data kasus Corona di Kalimantan Tengah hari ini sebanyak 1.096. Presiden Jokowi meminta agar kasus itu bisa disetop dan tak bertambah lagi.

Pernyataan itu disampaikan Jokowi saat di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (9/7/2020). Awalnya, Jokowi meminta seluruh wilayah untuk berhati-hati untuk masuk pada fase new normal.

"Hati-hati mau mau ke tatanan baru new normal harus melewati tahapan-tahapan. Semuanya seluruh kabupaten, kota dan provinsi, ada pra kondisi, conditioning dulu. Yang kedua timing-nya, waktunya kapan mulai masuk ke new normal. Ini penting sekali, tak langsung ujug-ujug langsung diputuskan masuk ke new normal, hati hati mengenai ini," ujar Jokowi.

"Ketiga prioritas sektor mana yang didahulukan, tak semua langsung dibuka, nggak bisa. Dipilih sektor-sektor yang memiliki risiko rendah, buka dulu. Yang risiko sedang yang kedua, yang ketiga yang memiliki risiko tinggi. Misalnya sekolah, hati-hati kalau ingin buka sekolah," sambung dia.

Untuk itu, Jokowi menghargai Pemprov Kalimantan Tengah yang melaksanakan tes masih kepada masyarakat terkait Corona. Namun, menurut dia, tes masif saja belum cukup. Sehingga haris dilakukan pelacakan yang agresif baik terhadap ODP maupun PDP.

"Kalau sudah ketemu, kalau yang sakit bawa ke rumah sakit, yang kira-kira sehat tapi positif isolasi yang ketat. Kita kalau di Jakarta kalau sakit berat langsung bawa ke RS Sulianti, tapi kalau sedang ringan bawa Wisma Atlet dua minggu sembuh, langsung dipulangkan," kata Jokowi.

Tiga hal tersebut yakni tes masif, pelacakan agresif dan isolasi ketat menjadi penting dalam menekan kasus Corona. Untuk itu, Jokowi meminta, kasus Corona di Kalimantan Tengah tidak bertambah lagi.

"Hati hati, angka 1.093 (1.096) kasus positif ini harus setop jangan sampai ada tambahan lagi. Dan setiap gubernur, bupati, wali kota yang ingin memutuskan sesuatu kebijakan tolong pakai betul data science, kedua minta saran pada pakar para kesehatan scientist, jangan sampai memutuskan tanpa tanya kanan kiri tak pakai data science, ini bahaya sekali, ini bukan sesuatu yang mudah, oleh sebab itu harus di-back up data science," jelas Jokowi.

(idn/dhn)