Ma'ruf Sebut Ada Sifat Mudah Mengkafirkan di Medsos: Kampus Bisa Jadi Filter

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Sabtu, 16 Mei 2020 13:21 WIB
Wakil Presiden Maruf Amin
Foto: Wakil Presiden Ma'ruf Amin (dok. Setwapres)
Jakarta -

Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyebut Indonesia menjadi negara ke-4 terbesar sebagai pengguna aktif social media. Ma'ruf menyebut lembaga pendidikan harus berperan aktif dalam perkembangan teknologi itu dan mampu menjadi filter masyarakat dalam menggunakan media tersebut.

"Kementerian Komunikasi dan Informatika juga menyebutkan bahwa lebih dari 150 juta orang Indonesia aktif di media sosial. Dengan angka tersebut, Indonesia menjadi negara dengan pengguna media sosial Facebook dan Instagram terbesar ke-4 di dunia, setelah India, Amerika Serikat, dan Brasil," ujar Ma'ruf dalam sambutannya saat menghadiri Dies Natalis Universitas Negeri Jakarta secara virtual, Sabtu (16/5/2020).

Ma'ruf menyebut penggunaan media sosial itu tentu menghadirkan tantangan. Ma'ruf meminta perguruan tinggi memanfaatkan perkembangan teknologi itu untuk menciptakan peluang guna mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.

"Besarnya adopsi penggunaan teknologi digital tersebut di Indonesia tentu saja membawa peluang dan sekaligus tantangan. Teknologi digital mampu mendorong pertumbuhan industri, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah. Pertumbuhan teknologi digital juga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, pariwisata, dan jasa lainnya. Peluang tersebut tentu harus dapat dimanfaatkan dengan baik oleh lembaga pendidikan tinggi agar menciptakan lulusan yang dapat memanfaatkan teknologi digital ini," ungkapnya.

Namun, di lain sisi, Ma'ruf menyebut media sosial juga memberikan dampak negatif. Seperti berkembangnya berita bohong hingga munculnya sifat gampang mengkafirkan orang lain.

"Akan tetapi di sisi lain, teknologi digital juga memberikan tantangan. Saat ini, dengan berkembangnya media sosial, berbagai pesan dengan mudah disampaikan termasuk pesan-pesan yang negatif, hoax, bahkan pesan yang mengajak untuk memusuhi negara, anti Pancasila, anti NKRI, radikal terorisme, intoleransi, serta sifat yang mudah mengkafirkan orang lain," tutur Ma'ruf.

Dengan demikian, Ma'ruf mengatakan lembaga pendidikan terutama perguruan tinggi harus mampu menjadi filter dalam perkembangan teknologi informasi itu. Ma'ruf juga meminta lembaga pendidikan mengajarkan cara penggunaan teknologi yang baik dan mengedepankan toleransi.

"Karena itu, saya berpesan agar lembaga pendidikan, termasuk UNJ, dapat juga menjadi filter dari berbagai pemanfaatan teknologi digital dengan tujuan negatif tersebut. Ajarkan cara memanfaatkan teknologi digital secara sehat. Terus kampanyekan pesan-pesan positif dalam kampus, terutama terkait bela negara, patriotisme, cinta sesama, dan toleransi," katanya.

Simak juga video Ma'ruf: Semangat Ki Hajar Harus Dihidupkan Meski Covid-19 Melanda:

(lir/hri)