MPR Minta Pemerintah Jamin Ketersediaan Obat Penyakit Non COVID-19

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Rabu, 13 Mei 2020 20:19 WIB
Lestari Moerdijat
Foto: Dok. MPR RI-Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat minta pemerintah menjamin ketersediaan dan stabilitas harga obat bagi penderita Non COVID-19. Saat ini penderita penyakit autoimun, kanker dan sejumlah penyakit non COVID-19 lainnya terkendala dalam melakukan pengobatan.

"Ketersediaan dan akses untuk berobat bagi penderita penyakit autoimun dan kanker misalnya kerap kali terganggu saat ini," ujar Lestari yang akrab disapa Rerie di Jakarta, Rabu (13/5/2020).

Di masa pandemi COVID-19 ini, menurut Rerie, selain terbatasnya jumlah dokter spesialis onkologi untuk penderita kanker, jam praktek dokter spesialis lainnya juga dikurangi. Akibatnya, penderita penyakit Non COVID-19 lainnya juga terkendala untuk berobat.

Kendala lainnya, tambah Legislator Partai NasDem itu, ada sejumlah obat bagi penderita Non COVID-19 seperti chloroquin, hydroxychloroquin, vitamin D3, saat ini juga dipakai untuk pengobatan penderita COVID-19.

"Saya berharap sejumlah obat itu ketersediaannya cukup dan harganya tidak melambung tinggi, karena permintaannya meningkat setelah dipakai untuk pengobatan COVID-19," ungkapnya.

Demikian juga untuk ketersediaan dokter spesialis di rumah sakit, dia berharap, ada pengalokasian sejumlah rumah sakit non rujukan COVID-19 yang memberikan layanan dokter spesialis untuk melayani penderita non COVID-19.

Dia menjelaskan wabah COVID-19 di tanah air juga mengganggu jadwal pemberian vaksinasi pencegahan kanker serviks bagi pelajar di sejumlah kota. Sehingga, pemerintah diminta segera melakukan evaluasi untuk menata kembali program vaksinasi HPV tersebut.

Meski pemerintah saat ini sedang fokus untuk mengatasi wabah COVID-19, ia berharap, pemerintah tetap memberi perhatian pada sejumlah pengobatan bagi penyakit Non COVID-19.

Sebelum COVID-19 mewabah di tanah air, sejumlah penyakit seperti hipertensi, diabetes melitus, stroke dan kanker tercatat sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

"Bila proses pengobatan sejumlah penyakit itu terganggu, saya khawatir malah menambah tingkat kematian di masa pandemi COVID-19," pungkasnya.

(ega/ega)