1 ABK WNI di Kapal China yang Wafat Dimakamkan di Tapteng Sumut

Abdi Somat Hutabarat - detikNews
Senin, 11 Mei 2020 17:09 WIB
Keluarga Efendi Pasaribu (Abdi Somat-detikcom)
Keluarga Efendi Pasaribu (Abdi Somat/detikcom)
Tapanuli Tengah -

Jenazah salah satu anak buah kapal (ABK) Long Xing 629 yang wafat, Efendi Pasaribu, telah sampai di kampung halamannya di Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara. Jenazah kemudian dimakamkan di TPU yang tak jauh dari rumahnya.

Jenazah tiba di Desa Pahieme II, Kecamatan Sorkam Barat, sekitar pukul 03.00 WIB, Senin (11/5/2020). Pihak keluarga menyebut almarhum bekerja di kapal sekitar 1 tahun bulan.

"Sudah 1 tahun 2 bulan lah dia bekerja sebagai ABK, terakhir dia ngasih kabar sama kami tanggal 26 April 2020 yang lalu," kata ayah Efendi, Hasurungan Pasaribu.

Hasurungan mengaku mendapat kabar anaknya wafat dari Jakarta. Dia mengatakan berharap apa yang terjadi terhadap anaknya dan rekan-rekannya sesama ABK bisa diusut tuntas.

"Saya tahu kabar anak saya dari Jakarta. Harapan saya, ini harus diusut dulu sampai tuntas, apa yang terjadi sama anak saya dan kawan-kawannya," ujar Hasurungan.

Sebelumnya, berita mengenai pelarungan jenazah ABK WNI dari kapal berbendera China sudah tersiar sejak awal 2020. Hanya, belakangan publik Indonesia terkesiap gara-gara kasus di awal tahun itu ternyata bukan satu-satunya, diungkap oleh media Korea Selatan, MBC News.

Ternyata ada tiga jenazah ABK WNI yang dilarung ke laut, semuanya adalah ABK WNI dari kapal Long Xing 629, meski ada pula yang sempat berpindah ke kapal lain sebelum akhirnya meninggal dunia dan dilarung ke laut. Ada satu lagi ABK WNI dari kapal Long Xing 629 yang meninggal dunia, tapi tidak meninggal dunia di tengah laut, melainkan di Busan, Korea Selatan.

MBC News mengabarkan tiga ABK WNI yang meninggal dunia dan jenazahnya dilarung ke laut adalah Alfata (19), Sepri (24), dan yang terbaru adalah Ari (24). Satu lagi, inisial EP, meninggal beberapa hari setelah berhasil mencapai Busan Korsel, 24 April.

"Yang bersangkutan akhirnya meninggal dunia pada tanggal 29 April, dan meninggal karena didiagnosa penyakitnya pneumonia. Ini jenazah almarhum sedang kami urus, insyaallah segera bisa dipulangkan ke Tanah Air dalam waktu tidak terlalu lama," kata Duta Besar Indonesia untuk Korsel, Umar Hadi, Kamis (7/5).

Peristiwa ini kemudian mendapat sorotan tajam. Menlu Retno Marsudi meminta pemerintah China membantu agar hak para ABK WNI dapat terpenuhi, salah satunya soal gaji.

"Kita juga sampaikan kita minta dukungan pemerintah Tiongkok untuk membantu pemenuhan tanggung jawab perusahaan atau hak para awak kapal Indonesia termasuk pembayaran gaji yang belum dibayarkan dan kondisi kerja yang aman," kata Retno Marsudi dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (7/5).

(haf/haf)