Dikritik Gegara Bahas Omnibus Law di Tengah Corona, DPR: Maju Kena Mundur Kena

Mochamad Zhacky - detikNews
Senin, 13 Apr 2020 18:36 WIB
Willy Aditya
Willy Aditya (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

DPR RI dikritik karena tetap melanjutkan proses pembahasan omnibus law RUU Cipta Kerja (Ciptaker) di tengah pandemi virus Corona (COVID-19). Badan Legislasi (Baleg) DPR, selaku alat kelengkapan dewan (AKD) yang berwenang membahas RUU Ciptaker, merasa serba salah.

"Jadi begini, cara berpikirnya jangan prejudice (kecurigaan). DPR itu tugas konstitusionalnya membuat Undang-Undang. Nanti dibilang DPR nggak produktif, DPR-nya melempem. Jadi DPR ini maju kena mundur kena ini. Ya, jangan kemudian kita di peta konflik dengan kondisi seperti itu," kata Wakil Ketua Baleg Willy Aditya kepada wartawan, Senin (13/4/2020).

Willy menegaskan proses RUU Ciptaker saat ini belum memasuki tahap pembahasan substansi. Sebelum masuk tahap pembahasan substansi, kata dia, Baleg akan menggelar rapat kerja (raker) dengan pihak pemerintah untuk memastikan kesiapan RUU tersebut.

"Besok kita tanyakan kesiapan pemerintah dan skemanya, apakah tetap seperti awal atau tidak, apakah ada substansi yang berubah atau tidak," terang Willy.

Anggota Fraksi NasDem itu menuturkan Baleg menyadari bahwa RUU Ciptaker mendapat penolakan dari berbagai pihak. Karena itu, Baleg memutuskan untuk mengubah alur proses pembahasan.

Willy menjelaskan dalam proses pembahasan RUU Ciptaker Baleg memundurkan proses penyerahan daftar inventaris masalah (DIM) dari masing-masing fraksi. Selain itu, Baleg juga memutuskan untuk menyerap aspirasi masyarakat lebih dulu sebelum RUU Ciptaker masuk tahap pembahasan substansinya.

"Bilang sama teman-teman itu, belum mereka berpikir, Baleg sudah membuat keputusan itu. Ini di balik, kita menyusun DIM belakangan, pada tahap awal itu RDPU (rapat dengar pendapat umum) semua, semua akan dilibatkan. Jadi mereka baru mengusulkan kita sudah membuat agenda untuk itu," jelasnya.

"Prosesnya yang harus kita lihat. DPR itu aspiratif dengan caranya seperti apa. Masalah substansi kita perdebatkan, dialogkan bersama-sama dengan mengedepankan data, dengan mengedepankan argumentasi," imbuhnya.