Kemenag Minta Masyarakat Tak Debat soal Ibadah di Tengah Corona

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Jumat, 10 Apr 2020 11:00 WIB
Ilustrasi corona (Fauzan Kamil/detikcom)
Ilustrasi Corona (Fauzan Kamil/detikcom)
Jakarta -

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Hindu Kementerian Agama (Kemenag) mengimbau masyarakat agar tidak saling memperdebatkan cara protokol kesehatan dan cara agama dalam beribadah di tengah situasi wabah Corona (COVID-19). Masyarakat hanya perlu saling mendukung dan saling menguatkan sehingga mentalitas tetap terjaga.

"Kita harus bersama-sama dipelopori pemerintah hadapi ini. Sebagai masyarakat beragama tidak boleh persoalkan dua cara berbeda, di mana antara cara protokol kesehatan dan cara agama. Tapi bagaimana kedua cara ini, hand in hand saling mendukung dan menguatkan dalam kerangka hadapi ujian seperti ini. Ini akan memperkuat mentalitas kita," kata Plt Direktur Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu, I Made Sutresna, melalui siaran langsung dari kanal YouTube BNPB, Jumat (10/4/2020).

Made menyebut umat beragama adalah umat yang bijak dan mampu beradaptasi terhadap pelaksanaan ibadah di tengah wabah. Agar semakin solid, Made ingin masyarakat untuk senantiasa membagikan doa lewat media sosial sehingga muncul saling menyemangati antar-umat.

"Bagaimana dengan yang orang beragama? ia adalah orang yang bijak, bisa beradaptasi untuk pelaksanaan ibadah kita dilarang bersama-sama dalam konteks pandemi ini. Nah, persoalannya adalah bagaimana penggunaan media sosial untuk mensiasati secara bersama-sama lakukan ibadah itu. Lakukan di media sosial berdoa bersama, saling kirim doa, semangati satu dengan yang lain sehingga sama-sama kuat makin solid hadapi ini," ujarnya.

Made mengingatkan agar masyarakat tetap tenang dan jangan mudah panik. Situasi seperti ini, disebut Made, diibaratkan seperti saat menyeberangi lautan sehingga terkadang ombak dan terpaan angin ikut mewarnai air laut yang tidak selalu tenang.

"Kami ingatkan ajaran agama mengingatkan harus memandang eksistensi kehidupan kita dengan sebaik-baiknya. Hidup kita bagaikan kita menyeberangi lautan. Tentunya kita seberangi lautan kadang tenang, kadang ada ombaknya bahkan tiupan angin kencang di kala menyeberang sehingga kita dapat terpaan, hakikatnya begitu. Tapi, yang harus dicatat hidup kita berbeda dengan di luar. Diri kita tidak boleh gentang, tidak boleh panik menghadapi semua hal di luar hidup kita," pungkasnya.

Di Tengah Pandemi Corona, Perayaan Paskah Digelar Online & Sederhana:

(zlf/zlf)