KPK soal Laporan MAKI terkait Istri Nurhadi: Jadi Tambahan Data Kasus

Ibnu Hariyanto - detikNews
Jumat, 27 Mar 2020 13:36 WIB
KPK akan segera memiliki gedung baru yang kini proses pembangunannya sudah masuk ke tahap akhir. Gedung KPK yang baru, sengaja dibangun dengan warna merah putih, sebagai simbol KPK milik Indonesia. Hasan Alhabshy
Dokumentasi Gedung Merah-Putih KPK (Dok. detikcom)
Jakarta -

KPK mengapresiasi laporan dari Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI) terkait istri eks Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi, Tin Zuraida. KPK mengaku laporan dari MAKI itu akan dijadikan tambahan data untuk pengusutan kasus korupsi Rp 46 miliar yang menjerat Nurhadi.

"Informasi tersebut tentunya akan menjadi tambahan data yang sudah kami miliki terkait perkara ini," kata Plt Jubir KPK Ali Fikri kepada wartawan, Jumat (27/3/2020).

Ali menegaskan, hingga kini KPK terus berusaha agar berkas perkara tersebut segera tuntas. Selain itu, KPK masih terus mencari tahu keberadaan Nurhadi dkk yang hingga kini belum tertangkap.

"Saat ini kami terus menyelesaikan berkas perkaranya dan masih terus mengejar untuk menangkap buronan Nurhadi dkk. Kami juga tetap mengimbau dan mengharapkan partisipasi masyarakat, apabila menemukan keberadaan tersangka NHD (Nuhadi) dkk untuk segera melaporkan kepada KPK melalui call center 198," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, MAKI melaporkan istri Nurhadi, Tin Zuraida, ke KPK. Tin diduga membayar cicilan apartemen di bilangan Senopati secara cash total Rp 477 juta.

"Kami melaporkan awal pekan ini," kata Ketua MAKI Boyamin Saiman kepada wartawan, Jumat (27/3/2020).

Dalam laporannya, MAKI melampirkan bukti fotokopi kuitansi transaksi atas nama Tin Zuraida kepada perusahaan pengelola apartemen di bilangan Senopati, Jakarta Selatan. Tiga berkas fotokopi transaksi itu semua tertanggal 31 Januari 2014. Bukti transaksi itu berjumlah:

Bukti pertama pembayaran Rp 112.500.000
Bukti kedua pembayaran Rp 250.000.000
Bukti ketiga pembayaran cash Rp 27.068.000 dan Rp 87.516.000

"Semoga bermanfaat bagi KPK untuk mampu menangkap DPO tersangka Nurhadi dkk," ujar Boyamin.

Dalam kasus ini, Nurhadi bersama menantunya, Rezky Herbiyono, dan pengusaha Hiendra Soenjoto ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap-gratifikasi Rp 46 miliar. Duit itu diduga digunakan untuk memuluskan pengurusan perkara di MA.

Ketiganya kemudian dimasukkan KPK dalam daftar pencarian orang. Ketiga buron itu hingga kini memang belum ditemukan keberadaannya.

Dari Tulungagung Hingga Surabaya Memburu Nurhadi:

(ibh/dhn)