Mengurai Fenomena ABG Bunuh Bocah di Jakpus yang Terinspirasi Film Horor

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 08 Mar 2020 08:17 WIB
Polisi rilis pembunuhan bocah A di Sawah Besar, Jakpus
Foto: Polisi rilis pembunuhan bocah A di Sawah Besar, Jakpus (Yogi Ernes/detikcom)
Jakarta -

Pembunuhan bocah A (5) oleh ABG N (15) di Sawah Besar, Jakarta Pusat bikin geger. Pelaku mengaku membunuh korban karena terinspirasi film horor.

Sosiolog UGM, Derajad S Widhyarto, menyampaikan analisis mengenai kasus pembunuhan tersebut. Derajad mulanya bicara tentang perbedaan keluarga pada zaman dulu dan sekarang.

"Keluarga dulu, tetangga, paman, bibi, saudara itu ikut menjaga. Tapi sekarang menjadi nuclear family, bapak ibu, anak. Hubunganya cuma bapak, ibu, anak. Tentu saja asekarang karena bapak, ibu, anak, hidupnya individualis, mereka hidup sendiri dan mandiri. Tapi di sisi lain tidak ada pengawasan dari kelompok lain, pengawasan dari keluarga lain lingkungan," kata Derajad kepada wartawan, Sabtu (7/3/2020).

Derajad mengatakan pengakuan pelaku yang membunuh korban karena kerap menonton film horor menandakan minimnya pengaruh dari lingkungan sekitar. Sehingga, kata Derajad, pelaku menelan mentah-mentah tayangan yang ada di film.

"Mereka melihat film, film itu kerja sendiri artinya niat problem mereka, problemnya itu problem mereka ketika melakukan tindakan itu tidak dipengaruhi oleh lain, tidak dipengaruhi oleh lingkungan. Jadi lingkungan itu tidak cukup memberikan inside terhadap tindakan mereka sehingga dia mencontoh atau melakukan imitasi terhadap tindakan-tindakan yang ada di film. Itu menunjukkan kehidupan keluarga betul-betul nuclear family, sifatnya inidivudalistik keluarga. lingkungan ya tidak terlalu mempengaruhi, justru lingkungan dengan adanya keluarga seperti ini melakukan penekanan, dalam arti bahwa mereka tidak mau ikut campur urusan orang lain," ujar dia.

Derajad mengatakan fenomena itu menandakan adanya perubahan makna keluarga. Pengawasan dari lingkungan sekitar itu juga menjadi minim.

"Saya kira nilai yang ditanamkan oleh keluarga, berpengaruh besar. Mungkin si anak mungkin mempunyai hubungan kurang baik dengan orang tuanya, terus kemudian juga otomatis hubungan dengan lingkungannya kurang baik juga, agak terganggu juga sehingga kemudian melakukan tindakan-tindakan individual yang sebenarnya tidak merusak lingkungan tapi merusak dirinya sendiri," ujar dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2