Begini Bahayanya Orba yang Disebut-sebut Bisa Terulang dengan Omnibus Law

Andi Saputra - detikNews
Senin, 02 Mar 2020 09:51 WIB
Bob Hasan, Pangeran Bernard dari Belanda, dan Presiden Soeharto bermain golf, 1970
Soeharto saat main golf dengan Bob Hasan. Usai Soeharto tumbang, Bob Hasan diadili karena korupsi (Repro buku, Mengapa Saya Sehat)
Jakarta -

Survei Lokataru Foundation menunjukkan mahasiswa menganggap omnibus law RUU Cipta Kerja bisa menjadikan neo-Orde Baru (Orba) hingga represif. Lalu apa itu Orba sehingga harus ditakuti?

Salah satu riset soal bahaya Orde Baru dilakukan oleh Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM, Oce Madril. Riset itu sebagai salah satu syarat Oce mendapatkan gelar doktor.

Riset itu bisa dipertahankan dalam ujian doktor dengan tim penguji yaitu Prof Mahfud, Prof Denny Indrayana, Prof Saldi Isra, Prof Nikmatul Huda, Dr Supriyadi, Dr Richo A. Wibowo, Dekan FH UGM sebagai Ketua yaitu Prof Sigit Riyanto. Adapun untuk promotor yaitu Prof Eddy OS Hiariej dan Dr Zainal Arifin Mochtar.

Dari hasil penelitiannya, didapatkan korupsi pada masa Orde Baru bisa berjalan lama karena kesadaran subjektif para pengusaha yang mengandalkan negara dengan menjadi politisi pengusaha. Para pengusaha membentuk struktur ekonomi-politik Indonesia pada tahun 1980-an

Melalui pemerintahan Orde Baru ini implementasi kebijakan pembangunan sebagian besar dikuasai oleh dan lewat mekanisme birokrasi negara yang wujudnya sebagai "physical capital accumulation" yang pada dasarnya melanggengkan praktik korupsi.

Di samping korupsi administratif, rezim Orde Baru juga melakukan korupsi politik melalui pembuatan perangkat hukum yang melegalkan tindakan koruptifnya. Melalui instrumen hukum seperti "Keputusan Presiden", Soeharto membuat kebijakan yang hanya menguntungkan pihak keluarga dan orang terdekatnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4