Round-Up

BDSM Seks Brutal Diatur Negara, Pengusul RUU Malah Belum Baca

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 20 Feb 2020 05:42 WIB
Fashion portrait of young beautiful female model Glamour women with long black hair and sexy hairstyle
Foto: Ilustrasi praktik BDSM (iStock)
Jakarta -

Draf RUU tentang Ketahanan Keluarga menuai kontroversi. Dalam salah satu pasal, perilaku seks Bondage, Dominance, Sadism, dan Masochism (BDSM) diatur. Namun, salah satu pengusul RUU itu justru mengaku belum membacanya.

Beragam pasal RUU Ketahanan Keluarga dimaksudkan untuk melindungi keluarga dari krisis. Namun, beberapa pasal seperti pasal pelarangan donor sperma hingga rehabilitasi untuk pelaku BDSM.

Sebagaimana dikutip detikcom, Rabu (19/2/2020), soal aturan pelaku penyimpangan seksual ini ada dalam Pasal 87. Pelaku penyimpangan seksual diminta untuk melaporkan dirinya ke Badanan Ketahanan Keluarga untuk mendapat pengobatan.


Pasal 87
Setiap Orang dewasa yang mengalami penyimpangan seksual wajib melaporkan diri kepada Badan yang menangani Ketahanan Keluarga atau lembaga rehabilitasi untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan.

Pasal 88
Lembaga rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 dan Pasal 87 untuk Keluarga yang mengalami Krisis Keluarga karena penyimpangan seksual diselenggarakan oleh instansi pemerintah atau masyarakat yang ditunjuk oleh Badan yang menangani Ketahanan Keluarga.

Dalam penjelasan Pasal 85, penyimpangan seksual ialah penyimpangan kepuasan seksual, seperti sadisme, masokisme, dan homoseks. Sadisme dan masokisme kerap disingkat BDSM.

Pasal 85
Ayat (1)
Yang adalah dimaksud dorongan dengan "penyimpangan kepuasan seksual" seksual yang ditunjukkan tidak lazim atau dengan cara-cara tidak wajar, meliputi antara lain:
a. Sadisme adalah mendapatkan cara kepuasan seseorang untuk seksual dengan menghukum atau menyakiti lawan jenisnya.
b. Masochisme kebalikan dari sadisme adalah cara seseorang untuk mendapatkan kepuasan seksual melalui hukuman atau penyiksaan dari lawan jenisnya.
c. Homosex (pria dengan pria) dan lesbian (wanita dengan wanita) merupakan masalah identitas sosial dimana seseorang mencintai atau menyenangi orang lain yang jenis kelaminnya sama.
d. Incest adalah hubungan seksual yang terjadi antara orang yang memiliki hubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah, ke atas, atau menyamping, sepersusuan, hubungan semenda, dan hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku dilarang untuk kawin.

Baleg DPR menjelaskan bahwa RUU Ketahanan Keluarga ini sifatnya masih berupa draf usulan. Ada 5 Anggota DPR yang mengusulkannya.

"(RUU Ketahanan Keluarga) masih draf. Jadi itu draf diusulkan oleh 5 pengusul. Itu kan diusulkan judul dan naskah akademiknya ketika penyusunan Prolegnas Prioritas 2020 dan itu masuk. Karena sudah disahkan di paripurna (prolegnas prioritas) maka ibarat taksi argonya itu mulai jalan. Tahapan untuk menuju RUU itu sudah bisa dilakukan," kata Wakil Ketua Baleg DPR Achmad Baidowi saat dihubungi, Selasa (18/2/2020).

Baidowi menyebut 5 anggota DPR pengusul RUU ini yaitu Ledia Hanifa dan Netty Prasetiyani dari Fraksi PKS, Sodik Mudjahid dari Fraksi Partai Gerindra, Ali Taher dari Fraksi PAN, serta Endang Maria dari Fraksi Partai Golkar.


Sementara itu, sebagai salah satu pengusul, Endang Maria mengaku belum membaca draf RUU Ketahanan Keluarga secara utuh, termasuk soal materi yang terlalu masuk ke ranah privat. Sebab, dia mengaku sibuk sehingga belum sempat membaca.

"Ya memang waktu itu diskusinya baru sebatas itu, lalu untuk lanjutannya kita memang belum tahu persis karena kesibukan kita, kita nggak sampai membaca lengkap," kata Endang di kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (19/2/2020).

Tonton juga video Pasangan Kekasih Ini Malah Buka Jasa Threesome:

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2 3