Round-Up

Poin-poin Draf RUU Ketahanan Keluarga yang Bikin Menganga

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 19 Feb 2020 09:05 WIB
fantasi seksual
Foto: iStock
Jakarta -

Draf RUU tentang Ketahanan Keluarga telah beredar. Sejumlah pasal dalam RUU itu membuat publik heran. Ada pasal yang mengatur soal BDSM hingga kewajiban istri dalam keluarga.

Sebagaimana diketahui, RUU Ketahanan Keluarga telah menjadi usulan draft. RUU ini termasuk dalam prolegnas prioritas 2020. Dikutip detikcom pada Selasa (18/2/2020), berikut ini beberapa poin pasal RUU Ketahanan Keluarga yang membuat publik heran:

Donor Sperma dan Ovum Bisa Dipidana

Seseorang yang dilarang mendonorkan sperma atau ovum untuk keperluan mendapatkan keturunan. Hal ini berlaku untuk yang sukarela maupun yang komersial.

Pasal 31
(1) Setiap Orang dilarang menjualbelikan sperma atau ovum, mendonorkan secara sukarela, menerima donor sperma atau ovum yang dilakukan secara mandiri ataupun melalui lembaga untuk keperluan memperoleh keturunan.
(2) Setiap Orang dilarang membujuk, memfasilitasi, memaksa, dan/atau mengancam orang lain menjualbelikan sperma atau ovum, mendonorkan, atau menerima donor sperma atau ovum yang dilakukan secara mandiri ataupun melalui lembaga untuk keperluan memperoleh keturunan.


Barangsiapa yang melanggar ketentuan Pasal 31 bisa terancam pidana. Mereka yang mendonorkan sperma dan ovumnya, terancam pidana lima tahun penjara hingga denda mencapai Rp 500 juta.

Pasal 139
Setiap Orang yang dengan sengaja memperjualbelikan sperma atau ovum, mendonorkan secara sukarela, atau menerima donor sperma atau ovum yang dilakukan secara mandiri ataupun melalui lembaga untuk keperluan memperoleh keturunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pasal 140
Setiap Orang yang dengan sengaja membujuk, memfasilitasi, memaksa, dan/atau mengancam orang lain menjualbelikan sperma atau ovum, mendonorkan, atau menerima donor sperma atau ovum yang dilakukan secara mandiri ataupun melalui lembaga untuk keperluan memperoleh keturunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).