Polda NTB Segel Kamar Khusus Klub di Lombok Tempat Atraksi Penari Striptis

Tim detikcom - detikNews
Senin, 10 Feb 2020 11:06 WIB
Polisi merilis penangkapan dua penari telanjang di Senggigi Lombok (Dok. Polda NTB)
Polisi merilis penangkapan dua penari telanjang di Senggigi Lombok. (Dok. Polda NTB)
Jakarta -

Polisi menyegel kamar khusus Metzo Executive Club & Karaoke Lombok yang jadi lokasi penggerebekan aksi tari telanjang (striptis). Penyegelan dilakukan untuk melanjutkan penyelidikan kasus tersebut.

"Untuk kepentingan penyidikan kami, sementara ini (kamar khusus) kita tutup," kata Kasubdit IV PPA Ditreskrimum Polda NTB AKBP Ni Made Pujawati seperti dilansir dari Antara, Senin (10/2/2020).

Dalam kasus ini, polisi menangkap dua penari striptis, yakni Yunita Meriandika alias Natal (35) dan Sri Manista alias Karin (23). Selain itu, seorang pria yang menjadi koordinator bernama Dede Ayip alias Papi Dedeh (43) ikut ditangkap.

AKBP Pujawati mengatakan aksi tangkap tangan kedua penari telanjang bersama seorang muncikarinya ini dilakukan berdasarkan serangkaian penyelidikan yang dijalankan tim. Dia mengatakan aksi tangkap tangan tersebut telah dikuatkan dengan adanya bukti-bukti yang diperoleh selama proses penyelidikannya.

Dia menjelaskan bahwa tidak tertutup kemungkinan pengembangan kasus ini mengarah pada pihak manajemen Metzo Executive Club & Karaoke Lombok, yang membuka paket khusus tarian telanjang bagi konsumennya. Polda NTB masih melakukan pendalaman di lapangan.

"Apakah ini ada indikasi TPPO (tindak pidana perdagangan orang) atau eksploitasi orang, itu semua masih dalam pendalaman kami," ujar AKBP Pujawati.

Polisi menangkap kedua penari tersebut di Cafe Metzo Lombok, Senggigi, Batu Layar, Lombok Barat, pada Rabu (5/2) malam. Natali dan Karin sebenarnya bekerja sebagai pemandu lagu karaoke di kafe tersebut. Namun Dede kemudian menawari tamu kafe karaoke berupa layanan khusus striptis yang dilakukan Natali dan Karin. Tarif striptis dipatoknya Rp 3 juta untuk tiap jam.

Dalam kasus ini, polisi menyita barang bukti berupa uang tunai Rp 6,4 juta, 2 set pakaian dalam wanita, 1 nota pemesanan, 4 unit ponsel, dan 2 lembar bukti transfer sejumlah Rp 2 juta dan Rp 1 juta.

Para tersangka disangkakan Pasal 33 juncto Pasal 7 dan 4 dan Pasal 34 juncto Pasal 8 dan/atau Pasal 36 juncto Pasal 10 UU RI No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

(jbr/fdn)