Terkait Omnibus Law, Bagaimana Status Halal Dalam Islam?

Rosmha Widiyani - detikNews
Rabu, 22 Jan 2020 05:20 WIB
Foto: Istimewa/Terkait Omnibus Law, Bagaimana Status Halal Dalam Islam?
Jakarta - Omnibus law kini ramai dibicarakan masyarakat, salah satunya terkait rencana penghapusan kewajiban sertifikasi halal. Aturan ini tercantum dalam Pasal 552 RUU Cipta Lapangan Kerja yang akan menghapus pasal 4, 29, 42, dan 44 UU Jaminan Halal.

Terlepas dari aturan sertifikasi, konsumsi sesuatu yang halal adalah wajib bagi seorang muslim. Halal juga meliputi cara dan proses sebelum mengkonsumsi suatu materi, serta berbagai aspek dalam kehidupan seseorang yang beragama Islam.


Dikutip dari situs Islamic Council of Victoria, halal dalam bahasa Arab dijelaskan sebagai sesuatu yang baik, dibolehkan, dan sesuai hukum. Bagi muslim, hukum merujuk pada Al-Qur'an seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 172.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Arab latin: Yā ayyuhallażīna āmanụ kulu min ṭayyibāti mā razaqnākum wasykurụ lillāhi ing kuntum iyyāhu ta'budụn

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah."

Hukum bagi muslim juga mengacu pada hadist shahih yang terbukti kebenarannya. Salah satunya dari Abu Huraira, yang juga menjelaskan risiko nekat makan atau melakukan sesuatu yang tidak halal atau haram bagi muslim.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: (إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً) (المؤمنون: الآية 51) ، وَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) (البقرة: الآية 172)،ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ)

Artinya: Dari Abu Hurairah RA, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan kepada kaum mukminin dengan sesuatu yang Allah perintahkan pula kepada para rasul. Maka Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: "Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih." (Al-Mu'minun; 51). Dan Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian." (al-Baqarah: 172). Kemudian Rasulullah SAW menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: "Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku," namun makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?" (HR Muslim).


Tidak didengar doanya, ternyata hanya salah satu risiko muslim yang kontak dengan berbagai hal haram. Berikut risiko lainnya dikutip dari berbagai buku dan hadist.

1. Mendatangkan sesuatu yang buruk

Mengkonsumsi, menggunakan, atau melakukan sesuatu yang haram cenderung menghasilkan energi yang tidak baik. Dikutip dari kitab Ihya 'Ulum al-Din jilid 2, Al-Ghazali mengatakan, energi tersebut cenderung digunakan untuk hal yang berbau maksiat.

Rasulullah SAW disebutkan selalu mengingatkan untuk mengkonsumsi dan melakukan hal yang baik atau halal. Sesuatu yang baik hanya datang dari hal balik, sebaliknya hal buruk berasal dari sesuatu yang juga buruk.

2. Doa terhalang

Risiko doa yang terhalang karena berinteraksi dengan sesuatu yang haram telah diingatkan Rasulullah SAW. Nabi SAW menyampaikannya pada salah satu sahabat Sa'd RA.

يَا سَعْدُ أَطِبْ مَطْعَمَكَ تَكُنْ مُسْتَجَابَ الدَّعْوَةِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ الْعَبْدَ لَيَقْذِفُ اللُّقْمَةَ الْحَرَامَ فِي جَوْفِهِ مَا يُتَقَبَّلُ مِنْهُ عَمَلَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا

Artinya: "Wahai Sa'd, perbaikilah makananmu, niscaya doamu mustajab. Demi Dzat yang menggenggam jiwa Muhammad, sesungguhnya seorang hamba yang melemparkan satu suap makanan yang haram ke dalam perutnya, maka tidak diterima amalnya selama empat puluh hari." (HR Sulaiman ibn Ahmad).

3. Sulit menerima ilmu Allah SWT

Risiko sulit menerima ilmu Allah SWT, karena sesuatu yang haram diceritakan Imam Syafi'i. Saat itu, Imam Syafi'i mengeluh pada gurunya Imam Waki karena sulit menghapal. Imam Waki menjawab keluhan tersebut dalam suatu sajak, yang mengumpamakan ilmu sebagai cahaya.

Artinya, ilmu hanya bisa diterima mereka yang pantas yaitu yang menegakkan halal dan meninggalkan maksiat. Halal tidak hanya diterapkan pada makanan, tapi juga perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.

4. Neraka

Menjadi penghuni neraka adalah risiko lain bagi mereka yang nekat mengkonsumsi atau melakukan hal yang haram. Rasulullah SAW telah mengingatkan risiko ini dalam hadistnya.

كُلُّ لَحْمٍ وَدَمٍ نَبَتَا مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِمَا

Artinya: "Setiap daging dan darah yang tumbuh dari perkara haram, maka neraka lebih utama terhadap keduanya." (HR Al-Thabrani).


Dengan ketentuan dan risiko yang telah ditulis, maka halal menjadi prioritas utama bagi muslim. Tidak adanya kewajiban sertifikasi, tak menjadi alasan muslim bisa mengkonsumsi atau melakukan hal yang tak sesuai hukum Islam.

Karena itu, bagi muslim sangat disarankan berhati-hati sebelum mengkonsumsi atau menggunakan suatu barang. Misal memastikan status halal makanan, minuman, atau berbagai hal lain sebelum digunakan.


Tentunya, status halal bisa dipertimbangkan ulang dalam kondisi mendesak. Misal untuk vaksin, obat-obatan, atau kondisi yang mengancam nyawa. Kondisi ini dijelaskan dalam firman Allah SWT surat Al-An'am ayat 119.

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ

Arab latin: Wa mā lakum allā ta`kulụ mimmā żukirasmullāhi 'alaihi wa qad fassala lakum mā ḥarrama 'alaikum illā madṭurirtum ilaīh, wa inna kaṡīral layudillụna bi`ahwā`ihim bigairi 'ilm, inna rabbaka huwa a'lamu bil-mu'tadīn

Artinya: "Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas." (row/erd)