Pelapor: Oknum yang Peras Rp 1 M Bukan AKBP Andi Sinjaya, tapi 'Markus'

Samsudhuha Wildansyah - detikNews
Selasa, 14 Jan 2020 22:12 WIB
Budianto (Samsuduha Wildansyah/detikcom)
Jakarta - Kasat Reskrim Polres Jaksel AKBP Andi Sinjaya Ghalib diperiksa Porpam soal isu pemerasan Rp 1 miliar terhadap pelapor kasus. Pelapor bernama Budianto membantah pelaku pemerasan adalah Andi Sinjaya, melainkan seorang makelar kasus (markus) yang mencatut nama Kasat Reskrim Jaksel.

Ditemui di kawasan Kuningan, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Budianto menyebut ada kesalahan informasi yang tersebar soal pemerasan tersebut. Budianto menyebut pelaku pemerasan sebetulnya adalah seorang markus, bukan dari institusi Polri.

"Sebetulnya itu ndak ada (AKBP Andi Sinjaya memeras, red)," kata Budianto kepada detikcom, Selasa (14/1/2020).

Budianto menceritakan awalnya dia didekati oleh markus tersebut. Markus itu mencoba meyakinkan dirinya bisa menyelesaikan kasus yang dia laporkan di Polres Jakarta Selatan.

"Karena perkara ini sudah cukup lama, itu ada beberapa makelar kasus ya, markus yang menawarkan saya bahwa mereka dapat membantu dari atas sampai ke bawah dan membuat saya percaya," kata Budianto.

Adapun perkara yang dilaporkan oleh Budianto adalah perusakan di sebidang lahan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Kasus itu dilaporkan pada Maret 2018 dan sudah dinyatakan lengkap oleh kejaksaan (P21).

Namun, hingga saat ini, berkas tersangka dalam kasus itu tidak kunjung dilimpahkan tahap 2 ke kejaksaan. Singkat cerita, Budianto berkenalan dengan makelar kasus berinisial A yang mengaku-aku bisa membantu menuntaskan kasus itu.

"Tahun 2018-lah (kenal A). Saat itu sudah ada tersangka dan saya kenal markus ini 1 Desember 2018 dan saat itu markus ini menjanjikan bisa menyelesaikan," kata Budi.

"Kalau kamu bisa sediakan Rp 1 M nanti saya bilang Pak Kasat," kata Budi menirukan pembicaraannya kala itu dengan A.

Dengan bermodal profil foto di WhatsApp bersama seorang perwira polisi, A terus membujuknya. Dia juga semakin yakin setelah diajak A ke Polres Jaksel.

"Karena dia undang saya ke Polres, jadi bagaimana saya nggak percaya," kata Budi.

Meski begitu, Budianto mengaku tidak pernah memberikan uang yang diminta markus tersebut. Sampai akhirnya, Budianto merasa kesal karena kasusnya sudah bertahun-tahun tidak ada progres. Dia kemudian menghubungi Ketua Presidium IPW Neta S Pane melalui telepon dan dengan suasana hati yang emosional. Dia menceritakan soal pemerasan itu tapi dia mengaku tidak menceritakan secara utuh kejadian tersebut kepada Neta.





Selanjutnya
Halaman
1 2