KPK Janji Ungkap Labirin Aliran Rp 100 M Kasus Emirsyah di Sidang

Ahmad Bil Wahid - detikNews
Jumat, 06 Des 2019 16:38 WIB
Mantan Dirut Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, usai menjalani pemeriksaan di KPK (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Mantan Dirut Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, usai menjalani pemeriksaan di KPK (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Sejak dibuka ke publik pada Januari 2017, kasus pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls-Royce P.L.C untuk PT Garuda Indonesia akhirnya segera masuk ke pengadilan. KPK berjanji mengungkapkan adanya aliran uang bernilai fantastis dalam kasus itu.

"Memang kami mengidentifikasi ternyata dugaan aliran dana itu bukan hanya Rp 20 miliar. Setelah kami cek ada puluhan rekening ketemulah totalnya kurang lebih dugaan aliran dana itu Rp 100 miliar termasuk pada tersangka yang sudah ditetapkan saat ini," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (6/12/2019).




Total ada 3 tersangka yang baru ditetapkan KPK yaitu Emirsyah Satar, Soetikno Soedarjo, dan Hadinoto Soedigno. Namun untuk persidangan nanti KPK baru mendudukkan 2 orang di kursi pesakitan yaitu Emirsyah dan Soetikno.

Pada saat ditetapkan sebagai tersangka, Emirsyah menjabat sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia, sedangkan Soetikno disebut sebagai beneficial owner dari Connaught International Pte. Ltd serta pemilik dari PT Mugi Rekso Abadi (MRA). Sementara itu Hadinoto tercatat sebagai mantan Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia.

Emirsyah--saat diumumkan sebagai tersangka pada Januari 2017--diduga KPK menerima 1,2 juta Euro dan 180 ribu USD serta dalam bentuk barang melalui Soetikno sebagai perantara dari Rolls-Royce P.L.C. Selain nominal yang diduga diterima Emirsyah, KPK mengidentifikasi adanya pusaran uang lain yang bahkan tidak hanya berada di dalam negeri serta tidak hanya pada Emirsyah seorang.

"Jadi bukan pada 1 orang ESA (Emirsyah Satar) tapi pada beberapa pejabat di PT Garuda Indonesia saat itu," kata Febri.




Salah satunya disebut Febri yaitu Hadinoto yang sudah menjadi tersangka. Hadinoto diduga menerima suap juga melalui Soetikno senilai 2,3 juta USD dan 477 ribu Euro yang dikirimkan ke rekening miliknya di Singapura.

"Semua yang terkait pada pembuktian perkara ini akan kami uraikan mulai dari dakwaan. Ini kasusnya cukup kompleks. Bukan sekadar suap dari pihak lain tapi ada penggunaan rekening dengan nama yang lain di beberapa negara," kata Febri.

"Kalau nanti ada fakta baru yang berkembang maka kami cermati lebih lanjut," imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2