detikNews
2019/11/06 13:25:51 WIB

Sidang Tuntutan Bowo Sidik

Dituntut 7 Tahun Penjara, Ini Rincian Suap-Gratifikasi Diterima Bowo

Faiq Hidayat - detikNews
Halaman 1 dari 3
Dituntut 7 Tahun Penjara, Ini Rincian Suap-Gratifikasi Diterima Bowo Terdakwa kasus suap-gratifikasi, Bowo Sidik Pangarso. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Bowo Sidik Pangarso diyakini jaksa menerima uang suap sekaligus gratifikasi yang nilainya miliaran rupiah. Mantan anggota DPR itu pun dituntut hukuman penjara selama 7 tahun.

Terkait Penerimaan Suap


Jaksa KPK meyakini Bowo menerima suap melalui orang kepercayaannya bernama Indung Andriani K. Uang itu diduga diterima dari PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) berkaitan dengan distribusi amoniak untuk campuran pupuk.

Semua bermula dari pemutusan kontrak kerja sama antara PT HTK dan PT Kopindo Cipta Sejahtera (KCS), yang merupakan cucu perusahaan PT Petrokimia Gresik, berkaitan dengan pengangkutan amoniak. PT HTK mengelola kapal MT Griya Borneo untuk mengangkut amoniak tersebut untuk PT KCS.

Namun, pada 2015, BUMN dalam bidang pupuk, yaitu PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) berdiri sehingga kontrak PT HTK dialihkan ke anak usaha PIHC yaitu PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) menggunakan kapal MT Pupuk Indonesia. Untuk itulah PT HTK melalui Asty Winasty sebagai General Manager Komersial Officer PT HTK saat itu meminta bantuan Bowo setelah dikenalkan rekannya yang bernama Steven Wang (pemilik PT Tiga Macan) agar PT Pilog menggunakan kapalnya, yaitu MT Griya Borneo, alih-alih menggunakan kapal sendiri.

"Oleh karena itu, Asty Winasty meminta bantuan terdakwa agar mengupayakan PT Pilog dapat menggunakan kapal MT Griya Borneo yang dikelola PT HTK untuk mengangkut amoniak, sedangkan kapal milik PT Pilog yaitu kapal MT Pupuk Indonesia akan dicarikan pasarnya oleh Asty Winasty. Atas permintaan Asty Winasty tersebut terdakwa bersedia membantu dan untuk itu terdakwa meminta Asty Winasty mengirimkan kronologis kerja sama sebelumnya dan progress hubungan kerja antara PT HTK dan PT Pilog," kata jaksa KPK saat membacakan surat tuntutan dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (6/11/2019).

Lantas Bowo menemui Direktur Utama PT PIHC Aas Asikin Idat dan Direktur Pemasaran PT PIHC Achmad Tossin Sutawikara. Bowo meminta mereka mengurus keperluan PT HTK agar kapal MT Griya Borneo dapat kembali digunakan oleh PT Pilog untuk pengangkutan amoniak. Setelah pertemuan itu, jaksa mengatakan Asty melaporkan kepada Taufik Agustono sebagai Direktur Utama PT HTK terkait pertemuan dengan pihak PT PHIC dengan PT HTK. Pertemuan pun terjadi dengan pembahasan kesepakatan tarif, skema pengangkutan, tonase, dan lainnya.

"Selanjutnya, Asty Winasty dihubungi oleh Steven Wang yang menyampaikan bahwa Terdakwa meminta commitment fee sebesar USD 2 (dua dolar Amerika Serikat) per metrik ton dari volume amoniak yang diangkut kapal MT Griya Borneo yang disewa oleh PT PILOG, begitupun Steven Wang juga meminta fee untuk dirinya sebesar 3 persen dari total revenue penyewaan Kapal MT Griya Borneo," kata jaksa.

Atas permintaan itu, jaksa mengatakan pihak PT HTK keberatan sehingga Asty menghubungi Steven Wang untuk bernegosiasi commitment fee yang terlalu besar. Akhirnya Bowo menyetujui commitment fee sebesar USD 1,5 per metrik ton dan akan dibayarkan setelah PT HTK menerima pembayaran dari PT Pilog, namun Bowo masih meminta tambahan fee kepada Asty Winasty.

"Asty Winasty dan pihak PT HTK mencari jalan keluar dengan cara PT HTK memberikan fee dari sewa Kapal MT Pupuk Indonesia milik PT Pilog untuk kebutuhan mengangkut Gas Elpiji Pertamina yang dihitung per hari sebesar USD 200," kata jaksa.
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com