Sejarah Cadar dan Beda Pendapat Ulama soal Hukum Memakainya

Sejarah Cadar dan Beda Pendapat Ulama soal Hukum Memakainya

Erwin Dariyanto - detikNews
Sabtu, 02 Nov 2019 11:17 WIB
Sejarah cadar. Foto: BBC Magazine
Sejarah cadar. Foto: BBC Magazine
Jakarta - Wacana Menteri Agama Fachrul Razi melarang pemakaian cadar bagi perempuan yang bekerja di instansi pemerintahan menimbulkan pro dan kontra. Sejumlah organisasi kemasyarakatan meminta Menag mengkaji kembali usulannya.

Lepas dari pro dan kontra tersebut, seperti apa sebenarnya sejarah penggunaan cadar?


Dikutip dari islami.co, cadar atau dalam bahasa Arabnya disebut niqab sudah biasa dikenakan oleh perempuan di wilayah gurun pasir. Bahkan kebiasaan ini sudah berlangsung sejak zaman jahiliah sebelum datangnya agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Pakaian model niqab ini berlangsung hingga masa dakwah Rasulullah.

Di sejumlah riwayat, Rasulullah tak pernah melarang penggunaan cadar namun juga tidak mewajibkan. Abdullah Ibnu Umar RA pernah meriwayatkan bahwa, Ketika Nabi Muhammad SAW menikahi Shafiyyah, beliau melihat Aisyah mengenakan niqab di tengah kerumunan para sahabat dan Nabi mengenalnya juga tak melarangnya.

Kisah tersebut juga diriwayatkan dalam hadits riwayat Ibn Majah yang diinformasikan dari Aisyah, bahwa ia berkata, "Pada saat Nabi SAW sampai di Madinah -di mana saat itu beliau menikahi Shafiyyah binti Huyay- perempuan-perempuan Anshar datang mengabarkan tentang kedatangan Nabi. Lalu saya (Aisyah) menyamar dan mengenakan niqab kemudian ikut menyambutnya. Lalu Nabi menatap kedua mataku dan mengenaliku. Aku memalingkan wajah sembari menghindar dan berjalan cepat, kemudian Nabi menyusulku". (HR. Ibnu Majah)

Di masa setelah Islam, pemakaian cadar diketahui digunakan oleh orang-orang Suku Thawariq yang hidup sebagai pengembara di Padang Sahara. Ibnu al-Khathib yang dikutip Philip K. Hitti dalam History of The Arabs (2014) menyebut bahwa cadar merupakan pakaian adat.

"Adat mereka yang aneh ini memunculkan nama lain, Mulatstsamun (para pemakai cadar) yang kadang-kadang menjadi sebutan lain bagi kaum Murabithun," tulis Philip K. Hitti (2014: 689) seperti dilansir dari islam.nu.or.id.
Selanjutnya
Halaman
1 2 3