Hujan deras mengguyur Bumi Sriwijaya sejak Senin (28/10/2019) malam hingga hari ini di sejumlah daerah. Bahkan, akibat curah hujan, titik panas atau hotspot tercatat menurun drastis dan hanya ada 33 titik.
"Hujan sistem konvektif berskala meso dengan indikasi awan hujan yang memanjang lebih-kurang 200 km diyakini dapat memadamkan titik-titik panas karhutbunla dikarenakan hujan yang diakibatkan berlangsung lama dan biasanya terjadi pada malam hingga pagi hari," ujar Kasi Data dan Informasi BMKG Stasiun SMB II Palembang, Bambang Beni, Selasa (29/10).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara regional, kata Bambang, adanya pusat tekanan rendah di Samudera Hindia mengakibatkan adanya penarikan massa udara ke wilayah tersebut. Sedangkan adanya Borneo Vorteks menyebabkan masuknya massa udara dari Laut Cina Selatan dan Laut Jawa ke wilayah Sumatera Selatan.
Langit cerah di Palembang. (Raja Adil/detikcom) |
Hal ini akan menyebabkan potensi hujan pada 27-30 Oktober di wilayah Sumatera Selatan dengan kriteria sedang-lebat di wilayah Musi Rawas, Muratara, Lubuk Linggau, Empat Lawang, Pagar Alam, Muba, Lahat, PALI, OKU, OKU Selatan, Muara Enim, Prabumulih, Banyuasin, dan Palembang. Termasuk hujan ringan di wilayah OKI, Ogan Ilir, dan OKU Timur.
Sementara itu, kondisi hujan akibat faktor lokal akan tetap berpotensi di wilayah bagian barat dikarenakan kelembapan udara lapisan atas cukup memadai untuk pertumbuhan awan dan berdataran tinggi.
"Biasanya hujan terjadi dan berlangsung sebentar, sporadis dan berpotensi petir disertai angin kencang," kata Bambang.
Baca juga: Indonesia Kian Panas |
Potensi hujan sendiri telah diprediksikan BMKG sejak beberapa hari terakhir. Pada rilis resminya, BMKG memprediksi hujan terjadi pada 27-30 Oktober, bahkan Satgas Karhutla akan memaksimalkan potensi hujan dengan cara melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC).
Kepala Stasiun Klimatologi Palembang Nuga Putratijo memprediksikan kondisi adanya kemunduran masa musim hujan. Namun 27-30 Oktober memang prediksi hujan turun di Sumatera Selatan.
"Jadi prediksinya hujan baru terjadi di akhir Oktober tanggal 27-30 Oktober atau di Dasarian I November sekitar tanggal 1 November. Potensi awan di tanggal tersebut harus dimanfaatkan untuk hujan buatan," kata Nuga.
Nuga mengatakan puncak musim hujan akan terjadi di awal Januari hingga Maret. Wilayah Sumatera sekatan yang mulai turun hujan dimulai di utara, Kabupaten Muratara, dan mengarah ke wilayah Bukit Barisan seperti Lahat, Muara Enim, Empat Lawang dan wilayah lainnya.
"Setelahnya akan berlangsung merata di seluruh wilayah Sumsel. Tapi BPBD juga harus mengantisipasi terjadinya bencana banjir," katanya.
Dari pantauan detikcom, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang ada di papan simpang DPRD terlihat berstatus Sedang. Status udara di Kota Palembang sebelumnya sempat menyentuh sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Halaman 2 dari 2












































Langit cerah di Palembang. (Raja Adil/detikcom)