Analisis Semiotika Duduk Lesehan Menteri: Tanda Kerendahan Hati

Analisis Semiotika Duduk Lesehan Menteri: Tanda Kerendahan Hati

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Rabu, 23 Okt 2019 19:08 WIB
Jokowi-Maruf bersama para menteri duduk lesehan. (Wahyu Putro/Antara Foto)
Jokowi-Ma'ruf bersama para menteri duduk lesehan. (Wahyu Putro/Antara Foto)
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik menteri-menterinya dengan cara duduk lesehan di anak tangga (undak-undakan) Istana Merdeka, Jakarta. 'Duduk lesehan' Jokowi bersama para menterinya dinilai mengandung tanda kerendahan hati.

"Lesehan adalah tanda kerendahan hati. Dengan lesehan mungkin Pak Jokowi berharap kabinet ini memiliki kualitas kerendahan hati yang lebih mementingkan kerja dan hasil kerja daripada simbolisme dan pencitraan belaka," kata peneliti komunikasi semiotika dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Kunto Adiwibowo, Rabu (23/10/2019).


Kunto juga menjelaskan kerendahan hati kerap diasosiasikan dengan hal yang berkaitan dengan rakyat. Duduk lesehan ini sekaligus jadi isyarat agar para menteri ini tidak berjarak dengan rakyat.

"Kerendahan hati juga sering diasosiasikan dengan berorientasi pada rakyat. Pejabat/menteri yang tidak segan untuk duduk di lantai/tangga dan bukan di kursi mengisyaratkan bahwa mereka harus tidak berjarak dengan rakyat. Mau turun dan cek langsung di lapangan, tidak hanya duduk di kursi empuk tapi harus siap lesehan bersama rakyat," lanjutnya.


Menurut Kunto, cara pengumuman nama menteri dengan duduk lesehan ini memang disengaja Jokowi. Semata-mata agar Kabinet Indonesia Maju ini menjadi kabinet yang berbeda.

"Jadi menurut interpretasi saya, Kabinet Indonesia maju ini diharapkan berbeda dari kabinet sebelumnya, bahkan dari awal pengumumannya sudah berbeda," pungkasnya.
Selanjutnya
Halaman
1 2