detikNews
Senin 30 September 2019, 19:49 WIB

Rintis Olahan Kunyit, Mantan Petani Ganja: Hidup Lebih Nyaman

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Rintis Olahan Kunyit, Mantan Petani Ganja: Hidup Lebih Nyaman Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom
Aceh Besar - Sore itu, Suhaeimi berbincang santai dengan Muhammad Sulaiman. Keduanya akrab, sesekali tangan mereka memegang sebungkus serbuk kunyit. Obrolan ringan di depan halaman rumah Sulaiman itu diselingi canda tawa.

detikcom mengunjungi kediaman Sulaiman untuk mengetahui bisnis olahan kunyit yang dimiliki Suhaeimi beberapa waktu lalu.

"Dulu saya mantan petani ganja, pernah jadi tahanan di LP Tanjung Kota Medan dari 2001 hingga 2010," ujar Suhaeimi saat memperkenalkan dirinya.

Pria asal Blang Tingkeum, Kemukiman Lamteuba, Aceh Besar itu mengakui, menjadi petani ganja tidak memberikan banyak manfaat bagi dirinya maupun keluarga. Ia mengungkapkan banyak kesedihan yang dialaminya saat menjadi petani ganja.


"Menanam ganja kadang membuat hati kita nggak tenang, hidup kadang susah karena harus sembunyi-sembunyi. Saat dipenjara pun saya selalu menangis membayangkan itu. Keluarga saya mengingatkan saya di penjara, sangat sedih, mamak saya menangis," ungkapnya.

Tak ingin berlarut dalam kenangan kesedihan tersebut. Selepas terbebas dari lembaga permasyarakatan, Suhaeimi pun langsung mengikuti jejak Sulaiman, mantan Keuchik (kepala desa) Blang Tingkeum yang kini beralih menjadi petani kunyit.

Rintis Olahan Kunyit, Mantan Petani Ganja: Hidup Lebih NyamanFoto: Alfi Kholisdinuka/detikcom


Bermodalkan lahan bekas ladang ganjanya, Suhaeimi mulai menanam berbagai tanaman alternatif lainnya. Dimulai dari kemiri, kopi hingga kunyit. Dia menuturkan dengan beralih menanam tanaman ini banyak manfaat yang di dapat.

"Alhamdulillah hidup kami lebih nyaman, kami juga sudah bisa memajukan kunyit yang bernama aslam ini. Untuk (penghasilan) sekarang sudah lumayan lah, cuman harapan kami kepada pemerintah untuk dapat meningkatkan lebih lanjut lagi," sebutnya.


Penggerak Budidaya Kunyit Lamteuba Sulaiman mengungkapkan rasa syukur karena budidaya kunyit yang digagasnya ini telah memberi manfaat bagi warga sekitar pemukiman. Meski demikian, ia mengakui ada tantangan baru yang harus di hadapinya, salah satunya adalah biaya pengiriman.

"Dengan menanam kunyit memang penghasilannya kalau dibandingkan dengan ganja itu sangat tidak masuk dalam kategori besar. Namun kesejahteraan, kenyamanan kehidupan terhadap keluarga anak, dan yang lebih penting mereka tidak di anggap sebagai perusak di daerahnya," tandasnya.

Sementara itu, Bupati Aceh Besar Mawardi Ali mengapresiasi langkah para petani Lamteuba yang telah beralih menanam kunyit ini. Dia menyatakan dengan bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) akan terus membina masyarakat Lamteuba dalam mencari pembangunan alternatif hingga meningkatkan perekonomiannya.

"Pemerintah terus mendorong desa bersama-sama untuk menanam tanaman alternatif lainnya dari menanam ganja dengan tanaman yang lebih produktif seperti jagung, kedelai, kacang dan tanaman-tanaman lainnya yang memiliki nilai produksi lebih tinggi sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat," ungkapnya.

Dia berharap dengan adanya bantuan dari pemerintah berupa dana desa, dapat mengembangkan potensi besar yang dimiliki oleh desa tersebut. Sehingga percepatan pembangunan di pedesaan semakin merata dan bisa pertumbuhan ekonomi masyarakat.

"Saya sangat berterima kasih sekali dengan adanya dana desa. Harapan saya yang mudah-mudahan dana desa ini bisa terus berkembang dan bisa di bantu kembali lagi oleh pemerintah pusat. Juga kita pastikan bersama-sama untuk mengawasinya sehingga dana desa ini betul-betul menjadi salah satu dana untuk percepatan pembangunan di pedesaan," tandasnya.

Untuk mengetahui kabar terbaru dari Kemendes PDTT bisa dilihat di sini.

[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com