detikNews
Rabu 18 September 2019, 08:37 WIB

Round-Up

Bantahan Total Pendiri Kaskus soal Beli Gedung yang Jadi Kasus

Tim detikcom - detikNews
Bantahan Total Pendiri Kaskus soal Beli Gedung yang Jadi Kasus Foto: dok.istimewa
Jakarta - Pendiri komunitas daring Kaskus, Andrew Darwis terseret dalam persoalan jual-beli gedung di Jakarta Selatan. Andrew dituduh melakukan pemalsuan dokumen berupa sertifikat gedung dan pencucian uang.

Pelapor, Titi Sumawijaya Empel menjelaskan kasus ini bermula saat dirinya terlibat pinjam-meminjam uang senilai Rp 15 miliar dengan seorang pria berinisial DW. DW disebut-sebut adalah tangan kanan Andrew Darwis.

"Kronologinya, saya pinjam-meminjam dengan Saudara DW. Dia itu tangan kanan Andrew Darwis. Dari awal itu dikomunikasikan dengan agennya si Ti dan Gi bahwa uang tersebut adalah sumbernya dari Andrew Darwis," kata Titi kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (16/9/2019).

Titi merasa tertarik untuk meminjam dana tersebut lantaran nama besar Andrew yang selalu disebut-sebut oleh DW. Titi pun menyepakati pinjam-meminjam uang itu. Titi hanya dikenakan bunga 1 persen dari pinjaman tersebut.

Pinjaman itu terjadi pada November 2018. Titi diberi tenggat 13 tahun untuk mengembalikan pinjamannya itu. Titi saat itu meminjam Rp 15 miliar, akan tetapi baru Rp 5 miliar yang diserahkan kepadanya.

Dalam perjanjian pinjam-meminjam itu, Titi menyerahkan sertifikat gedung di Jalan Raya Panglima Polim, Jakarta Selatan. Gedung itu kini digunakan sebagai tempat karaoke.




Namun, 3 minggu setelah Titi meminjam uang, tepatnya Desember 2018, sertifikat gedung yang dijadikan sebagai agunan berubah nama atas nama Susanto Tjiputra, yang mengaku sebagai direktur keuangan Andrew.

"Dia memalsukan surat, yaitu kuasa jual dari saya ke Susanto. Nyatanya saya nggak jual dan nggak buat kuasa jual dalam waktu sesingkat itu ke Saudara Susanto," tegas Titi.

Titi menuding nama-nama yang disebutnya itu adalah sebuah sindikat. Sebab, pengalihan kepemilikan gedung yang diagunkan itu terjadi begitu cepat setelah dirinya meminjam uang tersebut.

"Pinjam-meminjam ini harusnya 13 tahun dan biasanya founder itu kalau sampai balik nama itu biasanya orang itu tidak membayar utangnya. Ini belum juga berjalan setahun, belum juga berjalan sebulan, 3 minggu sudah dibalik nama. Jadi ini diduga memang sindikat," sambungnya.

Setelah dibalik nama menjadi Susanto, sertifikat itu terakhir berganti nama jadi milik Andrew Darwis. Titi tahu hal itu setelah mengeceknya ke kantor BPN. Sertifikat itu pun diketahuinya sudah diagunkan ke sebuah bank.

"Jadi memang kalau itu sudah positif dijaminkan lagi oleh Andrew Darwis kurang-lebih dia cair Rp 18 M menurut penyidik di kepolisian," ucapnya.









Sebelum melaporkan Andrew, Titi juga pernah melaporkan Susanto Tjiputra ke Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Jack Lapian selaku kuasa hukum Titi mengklaim Susanto bersama beberapa pelaku lainnya sudah ditahan polisi dalam laporan pertama itu.

"Jadi kasus ini perkara awalnya itu sudah dilaporkan ke Krimum, ditangani oleh Jatanras itu 23 Januari dilaporkan. Memang sudah dijadikan tersangka Susanto, sempat ditahan juga, Saudara Ti, Kev juga," kata Jack Lapian.

"Terkait dengan ini, kami membuka laporan baru, akhirnya ditangani Krimsus, khususnya untuk Andrew Darwis. Kami duga kuat, selain memalsukan, terindikasi kami duga kuat TPPU," lanjut Jack.

Terkait adanya tersangka dalam perkara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono membenarkannya. Argo mengatakan para tersangka telah dilimpahkan ke kejaksaan.

"Yang di Krimum ada beberapa tersangka, sudah dilimpahkan ke Kejati DKI," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Namun Argo belum memberikan informasi detail siapa-siapa saja pihak yang telah dijadikan sebagai tersangka. "Ini sedang saya cek," kata Argo.




Sementara Andrew membantah tudingan-tudingan itu. Andrew menegaskan dirinya tidak terlibat dalam pinjam-meminjam atau pun transaksi jual-beli gedung dengan Titi Sumawijaya Empel. Andrew bahkan menegaskan dirinya tidak kenal dengan Titi.

"Bahwa klien kami tidak mengenal orang bernama Titi Sumawijaya Empel, klien kami baru mengetahui nama tersebut sejak adanya laporan polisi dan orang tersebut tidak pernah meminjam uang kepada klien kami," kata Abraham Srijaya selaku kuasa hukum Andrew dalam keterangannya kepada detikcom, Selasa (17/9/2019).

Abraham mengatakan, kliennya memang mengenal DW--orang yang pertama terlibat pinjam-meminjam uang dengan Titi--sejak pertengahan 2018. Namun dia menegaskan bahwa DW bukan kaki tangan Andrew seperti disebutkan oleh Titi dan Jack Lapian.

Dia juga menegaskan Andrew juga tidak mengetahui soal pinjam-meminjam uang dengan Titi.

"Klien kami sama sekali tidak mengetahui terkait adanya pinjam-meminjam antara Titi Sumawijaya Empel dan pihak siapa pun juga dan klien kami sama sekali tidak mengetahui terkait adanya pinjam-meminjam yang melibatkan tanah dan bangunan yang dibeli dari Susanto Tjiputra," jelas Abraham.

Adapun, gedung di Jalan Raya Panglima Polim, Jaksel yang menjadi sengketa itu diakui Andrew dibeli dari Susanto. Andrew menegaskan jual-beli gedung tersebut dilakukan melalui prosedur yang benar tanpa melanggar hukum.

"Bahwa telah dilakukan checking oleh PPAT/Notaris dengan hasil: bersih, artinya tidak ada permasalahan apa pun dan dapat dilakukan jual-beli. Dilaksanakan jual-beli di hadapan PPAT, telah dilakukan serah-terima objek jual-beli (tanah dan bangunan) dan sudah dibayar lunas. Telah dilaksanakan balik nama atas sertifikat oleh BPN menjadi atas nama pembeli/klien kami," tuturnya.

Lebih lanjut, Abraham menyebut bahwa kliennya hanya difitnah. Pihaknya mempertimbangkan jalur hukum untuk melaporkan balik pihak-pihak terkait yang menyudutkannya.

"Setelah klarifikasi ini, maka sedang dipertimbangkan upaya hukum terhadap pihak-pihak yang sengaja beritikad buruk untuk merusak nama baik klien kami dengan memelintir fakta hukum yang ada (rekayasa fitnah)," tandas Abraham.






(mei/mei)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com