detikNews
Sabtu 14 September 2019, 02:18 WIB

Wabup Bogor Akan Bongkar Prostitusi Berkedok Kawin Kontrak di Puncak

Sachril Agustin B - detikNews
Wabup Bogor Akan Bongkar Prostitusi Berkedok Kawin Kontrak di Puncak Turis Timur Tengah menjadikan kawasan Puncak, Bogor sebagai tujuan wisata favorit (Rengga Sancaya/detikcom)
Kabupaten Bogor - Wakil Bupati Bogor Iwan Setiawan menegaskan fenomena kawin kontrak di kawasan Puncak merupakan praktik prostitusi terselubung. Iwan menyebut perlu adanya operasi untuk membongkar praktik kawin kontrak tersebut.

"Menurut saya ya operasi. Operasi tidak bisa maksimal, harus silent," ujar Iwan Setiawan di Masjid Jamie Al-Barokah RT 5/8, Desa Parakan Jaya, Kemang, Kabupaten Bogor, Jumat (13/9/2019).

Namun Iwan tidak menyebut kapan pihaknya akan melakukan operasi. "Ya jangan dikasih tahu nanti kabur. Saya bisa lah mencari siapa-siapa saja orang di balik itu," ucapnya.


Iwan tidak mentolerir praktik prostitusi berkedok kawin kontrak ini. Maraknya kawin kontrak secara terselubung di Puncak, dikhawatirkan merusak akidah.

"Saya juga nggak terima, itu bergeseknya ke akidah--berarti di Puncak itu ada paham yang masyarakat atau ulama yang melegalkan--itu yang saya takutkan juga. Itu prostitusi terselubung," tegas Iwan

Iwan berpandangan, kawin kontrak berbeda dengan kawin siri. Pada praktiknya, kawin kontrak merupakan sebuah prostitusi agar seakan-akan halal.

"Nggak, itu prostitusi yang dibungkus pengen jadi kaya halal," ucap dia.




Iwan melanjutkan, ada sebuah sindikat yang terlibat praktik kawin kontrak ini. Bisnis ini menjadi marak sejak 2009 seiring dengan banyaknya wisatawan dari Timur Tengah.

"Dari sepuluh tahun kemarin, sekitar 2009, karena itu salah satu paket bisnis. Jadi paket bisnis 'kan ada arung jeram, naik perahu dan yang paling menggiurkan paket kawin kontrak," tuturnya.

Praktik kawin kontrak dilakukan oleh sindikat bahkan penjaga vila ikut terlibat. Semua itu dilakukan demi pundi-pundi.

"(Nominal kawin kontrak) Rp 25-30 juta. Dulu sama sekarang, sama tarifnya segitu. Saya ini punya vila, pernah mau disewa, oleh orang Maroko selama 2 minggu saya nggak mau. Biaya seluruhnya Rp 25-30 juta itu dibagi-bagi jadi walinya segini, saksinya segini, PSK-nya berapa," paparnya.


Selain kawin kontrak, Iwan juga mengungkap modus prostitusi lainnya. Di mana PSK didatangkan untuk menghibur para wisatawan dari Timur Tengah. Dia mengatakan diperlukan strategi khusus untuk membongkar sindikat prostitusi kawin kontrak ini.

"Oknum di Puncak itu ada satu kelompok, yang satu kawin kontrak, yang satu lagi menjajakan PSK itu ke vila-vila pakai mobil. Itu terjadi. Mengakomodir orang-orang Uzbekistan, Kazakstan, Maroko," ucapnya.

"Kawin kontrak itu sindikat. Kita juga harus jadi sindikatnya. Kalau terlalu terbuka, nggak bakalan (terungkap, red). Karena itu ada orang wilayah, atau setempat." tambah Iwan.
(mei/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com