Dikepung Asap Karhutla, Udara di Pekanbaru Sangat Tidak Sehat

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Sabtu, 07 Sep 2019 09:03 WIB
Foto: Chaidir/detikcom
Pekanbaru - Kondisi indeks standar pencemaran udara (ISPU) di Pekanbaru memasuki level sangat tidak sehat untuk warga. Kondisi asap kian parah ini imbas dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang tak kunjung teratasi.

Suasana kota Pekanbaru, Sabtu (7/9/2019) terlihat seperti mendung. Sinar matahari terbendung tebalnya kabut asap sejak tadi malam. Kondisi asap terus menyelimuti hingga pukul 08.00 WIB.

Tebalnya kabut asap ini, berimbas pada ISPU yang hari ini memasuki lebel udara sangat tidak sehat dengan PM 10 di angkat 229 di situs KLHK. Namun aktivitas masyarakat masih berjalan normal.



Sejumlah sekolah dari TK, SD, SMP dan SMA masih tetap melaksanakan proses belajar mengajar. Padahal anak-anak paling rentan terserang penyakit akibat asap tebal. Pencemaran udara level sangat tidak sehat ini, kualitas udara yang dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar.

Dalam rilis BMKG Pekanbaru hari ini, padal level confidence 70 persen, sebaran titik panas (hotspot) di Riau mencapai 97 lokasi. Sebaran panas Karhutla ini berada di Kabupaten Pelalawan 45 titik, Inhil, 19, Kuansing 1, Rohil 2, Bengkalis 3, Inhu 25. Jumlah ini naik dibanding data sehari sebelumnya.

Walau Pekanbaru sejak kemarin dikepung asap tebal, namun aktivitas belajar dari berbagai tingkatan sekolah masih berjalan normal. Belum ada kebijakan pemerintah daerah untuk mengurangi jam belajar atau memulangkan siswa akibat asap.


"Asap kembali pekat, saya khawatir anak-anak sakit kembali. Seminggu yang lalu anak saya mengalami pusing dan muntah di sekolahnya imbas asap," kata Elis Masyitoh warga Jl Purwodadi Pekanbaru.

Dengan kondisi asap yang tak kunjung hilang dari langit Riau ini, membuat masyarakat khawatir akan kesehatannya. Apa lagi kabut asap sudah berlangsung hampir dua bulan.

"Sejak kabut asap ini, kondisi badan rasanya lemas, pusing dan rasa mual. Tapi mau bagaimana lagi, tak ada solusi yang diberikan pemerintah terkecuali hanya bisa pasrah oleh keadaan ini," kata Abdul Hadi warga Panam, Pekanbaru.




Tonton juga video 10 Hektare Hutan Pinus di Maros Sulsel Terbakar:

[Gambas:Video 20detik]

(cha/aan)