Round-Up

Pasukan di Papua Bertambah, Istana Jamin Tak Bikin Resah

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 23 Agu 2019 20:07 WIB
ILUSTRASI/Pemberangkatan personel tambahan ke Papua dari Polda Sulsel/Foto: M Bakrie-detikcom
ILUSTRASI/Pemberangkatan personel tambahan ke Papua dari Polda Sulsel/Foto: M Bakrie-detikcom
Jakarta - Kondisi di Papua dan Papua Barat sudah kondusif. Penambahan pasukan dilakukan memastikan keamanan pasca rusuh di sejumlah wilayah.

Polri mengirimkan 12 satuan setingkat kompi (SSK) atau sebanyak 1.200 personel ke Papua dan Papua Barat. Personel tambahan ini berasal dari Polda Sulsel, Sulteng, Maluku, NTB juga Kaltim.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, aparat aparat yang ditugaskan di Papua akan mengedepankan langkah persuasif. Polri juga menjamin tidak menggunakan peluru tajam dalam melakukan pengamanan.

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menyebut penambahan pasukan ke Papua Barat untuk menciptakan ketenangan bagi masyarakat. Moeldoko menegaskan penambahan pasukan bukan untuk menekan.




"Kita menginginkan penambahan kekuatan dalam rangka masyarakat itu biar tenang. Karena masyarakat di Papua kan banyak. Bukan hanya Papua saja. Masyarakat etnis-etnis yang lain kan juga banyak. Makanya semua warga yang ada di Papua harus merasa aman, begitu. Jangan dibalik-balik, merasa nggak aman, jangan. Salah itu pemahamannya," ujar Moeldoko di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (23/8).

Personel tambahan menurut Moeldoko agar situasi aman tetap terjaga. Dia menegaskan personel gabungan Polri-TNI akan memastikan keamanan masyarakat

"tujuannya justru ingin memberikan rasa tenang, gitu ya. Bukan upaya untuk menekan, nggak," kata Moeldoko.





Perkembangan terbaru terkait proses hukum pasca kerusuhan, tim Polda Papua Barat menangkap tiga tersangka penjarahan anjungan tunai mandiri (ATM) serta pembakaran bendera Merah Putih. Peristiwa ini terjadi saat kerusuhan di Manokwari.

"Hari ini kami sudah mengamankan tiga orang pelaku, dua orang adalah tersangka penjarahan ATM yang berada di depan kantor Majelis Rakyat Papua (MRP). Ada ATM yang dirusak diambil isinya lalu dibakar," ujar Kapolda Papua Barat Brigjen Herry Rudolf Nahak dikutip Antara, Jumat (23/8).

Dari pemeriksaan, dua tersangka berinisial MA dan DA, pelaku penjarahan ATM, mengakui perbuatannya.





Sementara, satu tersangka lagi berinisial MI merupakan pelaku pembakaran bendera Merah Putih saat terjadi kericuhan. Tiga tersangka itu adalah warga Manokwari.

Selain itu, polisi juga menetapkan 10 tersangka dalam demo berujung rusuh di Kota Timika, Kabupaten Mimika, Papua. Mereka dijerat dengan pidana perusakan dan membawa senjata tajam.

"Jumlah tersangka yang diamankan awal 34 orang. Setelah dilakukan pemeriksaan, yang dapat diproses hukum 10 orang," kata Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto saat dimintai konfirmasi, Jumat (23/8/2019).





Para tersangka dijerat dengan Pasal 170 KUHP tentang kekerasan terhadap orang atau barang serta Pasal 1 UU Darurat Nomor 12/1951 terkait senjata tajam.

Mabes Polri menyebut saat rusuh di Timika, 1 ruko dibakar dan pos kantor DPRD dirusak. Massa juga merusak 2 mobil patroli, 1 bus, dan 1 truk.




Tonton Video Jokowi Berikan Pernyataan Terkait Situasi Terkini di Papua:

[Gambas:Video 20detik]

(fdn/jbr)