Cerita Abraham Samad Istilahkan Teror sebagai Sarapan Pagi Pegawai KPK

Rolando - detikNews
Rabu, 07 Agu 2019 16:22 WIB
Mantan Ketua KPK, Abraham Samad, berkemeja putih. (Rolando/detikcom)
Jakarta - Eks Ketua KPK Abraham Samad bercerita mengenai intimidasi dan teror yang kerap menimpa pegawai KPK. Samad mengatakan intimidasi dan teror tersebut dengan istilah sarapan pagi bagi kalangan pegawai KPK.

"Kalau intimidasi itu mulai dari zaman sebelum saya, jauh dari jilid 1 sudah ada ancaman itu dan intimidasi itu. Semua itu tergantung apakah intimidasi itu berhasil atau tidak itu bergantung dengan situasi pada saat itu. Oleh karena itu di KPK kita sudah mengistilahkan ancaman teror atau intimidasi sebagai sarapan pagi. Jadi kalau kami bercanda itu soal teror ya sudah itu sarapan pagi saja," ujar Samad, dalam diskusi media 'Menakar Agenda Calon Pimpinan KPK dalam Melindungi Pegawai KPK dan Pegiat Anti Korupsi', di Bakoel Koffie, Jalan Cikini Raya, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (7/8/2019).

Istilah sarapan pagi itu diceritakan Samad lantaran pegawai KPK kerap tertimpa intimidasi dan teror. Bahkan Samad mengungkapkan karena kerap tertimpa teror dan intimidasi, pegawai KPK tidak peduli dengan hal itu.



"Kenapa kita menjadikan itu sarapan pagi karena setiap hari tidak ada tanpa error. Saking sering ya teror bagi anak-anak KPK itu sudah biasa. Kuat menghadapi teror. Saking sudah biasanya mereka mungkin sudah tidak peduli lagi ada teror karena tidak peduli itu mungkin mereka bisa lengah," katanya.

Lalu Samad bercerita kisahnya ketika awal menjabat Ketua KPK. Ketika itu Samad dapat informasi dari Ketua KPK sebelumnya, Busyro Muqoddas, bahwa ada satu pegawai KPK diteror namun hingga Samad keluar dari KPK pelaku tidak diketahui.



"Bahkan ketika Pak Busyro memimpin KPK ketika saya beralih dan masuk ke KPK kemudian saya jadi ketua, Pak Busyro pernah bilang kepada saya, 'Mas Abraham itu ada 1 pegawai KPK yang diteror dan ditabrak ketika pulang ke rumah', kakinya patah dan masuk rumah sakit," ungkapnya.

"Itu sudah dilaporkan dan sampai saya keluar sampai detik ini siapa pelakunya tidak tahu," sambung Samad.



Samad pun menilai jika pelaku teror KPK tidak terungkap, maka kejadian itu akan terus berulang. Dia pun mencontohkan Komisioner KPK, Laode M Syarif yang diteror lemparan bom molotov ke rumahnya.

"Kalau pelaku teror terhadap pegawai KPK ditemukan dan tidak pernah dibawa ke pengadilan kasus yang menimpa pegawai KPK maupun aktivis anti korupsi maka percaya saya bahwa teror itu akan berulang-ulang terus. Dan itu kejadian menimpa lagi misalnya Pak Laode dan sebagainya karena tidak diselesaikan," imbuh Samad.





Tonton Video Eks Ketua hingga ICW Soroti Pelanggaran Etik Petinggi KPK:

[Gambas:Video 20detik]

(dnu/dnu)