KLHK: Terus Meningkat, Sejak 2015 Ada 663 Kasus Kejahatan Lingkungan

Matius Alfons - detikNews
Rabu, 31 Jul 2019 11:59 WIB
KLHK mencatat perburuan satwa liar terus meningkat. Sejak 2012, ada 3.285 jerat disita (Matius Alfons/detikcom)
Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan perburuan terhadap satwa liar khususnya harimau masih terus meningkat. Instrumen pencegahan dibutuhkan selain penegakan hukum (gakkum).

"Penegakan hukum bukan satu satunya cara, masih banyak instrumen lain, tapi gakkum diperlukan untuk timbul efek jera agar tidak dilakukan lagi oleh orang lain," kata Dirjen Gakkum KLHK, Rasio Ridho dalam diskusi, di gedung Manggala Wanabhakti, Jakarta Selatan, Rabu (31/7/2019).

Diskusi yang diselenggarakan KLHK ini bertema 'Darurat Jerat: Jerat Sebagai Ancaman Utama Konservasi Harimau Sumatera'. Di lokasi diskusi dipamerkan jerat berbagai jenis yang disita Ditjen Gakkum KLHK. Menurut data yang dikumpulkan KLHK sejak tahun 2012 sudah ada 3.285 jerat untuk memburu satwa liar dilindungi.

Jerat yang disita petugas lapanganJerat yang disita petugas lapangan (Matius Alfons/detikcom)


Kemudian Ridho juga mengungkap selama 4 tahun ini tercatat dari 663 kasus kejahatan lingkungan, 260 kasus di antaranya terkait kejahatan tumbuhan dan satwa liar (TSL). Sementara itu, 41 kasus melibatkan perburuan harimau.

"Dari 663 kasus yang kami tangani ke pengadilan oleh KLHK, 260 kejahatan terkait TSL, potensi kejahatan masih besar," ungkap Ridho.

Ridho menjelaskan ada tiga faktor masih maraknya perburuan liar. Salah satunya yaitu faktor pelaku yang mengaku tak tahu perburuan sebagai kejahatan.


"Bermacam faktornya, yang kami amati, sering sekali orang tidak tahu itu suatu kejahatan, bisa aja nggak tahu masang jerat itu bukan kejahatan, kedua karena adanya moral hazard, orang tahu kalau jahat nggak diapa-apain, orang coba-coba karena pengawasan kita lemah, ketiga orang-orang yang ingin dapat keuntungan financial lebih," papar Ridho.

Data mencatat perburuan satwa liar terus meningkat tiap tahunData mencatat perburuan satwa liar terus meningkat tiap tahun (Matius Alfons/detikcom)

Karena itu, Ridho mengungkap law enforcement sudah mencukupi. Namun peran masyarakat sebagai instrumen pencegahan juga dibutuhkan menangani ini.

"Kami tetap butuh dukungan bapak-ibu, kita bisa dukung instrumen ini, kita harus beri tahu yang tidak tahu kalau kejahatan ini suatu kejahatan yang luar biasa," ujarnya.


Sementara itu, Kasubdit I Dit Tipidter Bareskrim, Kombes Adi Karya Tobing sependapat penegakan hukum diperlukan untuk shock therapy pelaku. Selain itu, sebutnya penting untuk masyarakat tahu manfaat menjaga satwa liar dan ekosistem lingkungan.

"Paling penting adalah gimana kita sadarkan masyarakat untuk tahu bahwa tujuan konservasi ini untuk kita sendiri, untuk umat manusia, kita jaga kelestarian sumber daya hayati untuk jaga ekosistemnya, nanti dari situ kita juga manfaatkan," ucap Adi. (maa/jbr)