detikNews
2019/07/16 20:30:46 WIB

Round-Up

Jangan Bikin Teror ke Siswa Baru

Tim detikcom - detikNews
Halaman 1 dari 2
Jangan Bikin Teror ke Siswa Baru SMA Taruna Indonesia di Palembang (Foto: Raja Adil Siregar/detikcom)
Jakarta - Dunia pendidikan Tanah Air 'tercoreng' gegara tewasnya seorang siswa SMA Taruna di Palembang, Sumatera Selatan, saat mengikuti masa orientasi siswa (MOS) di sekolah. Mendikbud Muhadjir Effendy menegaskan agar tidak ada lagi senioritas, apalagi membuat teror kepada siswa baru di sekolah.

Kabar tewasnya siswa SMA Taruna di Palembang bernama Delwyn Berli Julindro (14) itu saat orang tua korban melapor ke Polresta Palembang, Sabtu (13/7/2019). Ibu korban, Berce, mengatakan terdapat luka memar di tubuh putranya.


Menurut Berce, dari informasi yang didapat, putranya sempat pingsan sekitar pukul 04.00 WIB saat ikut rangkaian MOS, sebelum meninggal dunia di RS Myria, Palembang. Berce mengatakan putranya sudah ikut MOS selama satu minggu setelah lulus dari SMP 1 Tulung Selapan.

"Ada luka memar di lutut, itulah kenapa kami buat laporan polisi di Mapolresta," kata Barce saat membuat laporan polisi di Polresta Palembang.

Laporan Berce ke polisi langsung segera diselidiki. Dua hari berselang, polisi menetapkan pembina SMA Taruna Indonesia, OFA (24), sebagai tersangka tewasnya Delwyn. Polisi menyebut korban tewas akibat dipukul pakai bambu.

"Pertama, dari hasil forensik, ada luka di kepala akibat benda tumpul. Setelah itu dipastikan, kami identifikasi bahwa korban dipukul pakai alat bambu," ujar Kapolda Sumsel Irjen Firli saat rilis kasus di Mapolresta Palembang, Sumatera Selatan, Senin (15/7/2019).


Pemukulan terjadi ketika korban mengikuti pembinaan mental di SMA Taruna Indonesia. Hal ini terungkap setelah polisi memeriksa 21 saksi dan menemukan alat bukti itu.

Setelah diperiksa tim penyidik, ada satu saksi berinisial OFA yang mengaku memukul Delwyn karena emosional dan tersinggung. Setelah pengakuan itu, polisi memutuskan menetapkan OFA sebagai tersangka.

"OFA tersinggung dengan korban, katanya karena korban disuruh ikuti kegiatan dan tidak dilaksanakan. Korban nggak ikut itu karena sudah mengeluh sakit. Kami kerja sama dengan instansi terkait untuk melakukan perbaikan, dan ini perlu evaluasi bersama. Tidak boleh lagi ada kegiatan perpeloncoan seperti ini kalau mendidik," katanya.

Akibat perbuatannya, OFA saat ini ditahan di Polresta Palembang. Dia terancam Pasal 80 UU Perlindungan Anak dengan ancaman pidana 15 tahun penjara.

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com