detikNews
Senin 15 Juli 2019, 19:01 WIB

Pengusaha Sebut Ada Bagi-bagi Fee di Proyek Jalan Rp 34 M di Sulsel

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Pengusaha Sebut Ada Bagi-bagi Fee di Proyek Jalan Rp 34 M di Sulsel Pengusaha Irfan Jaya (Opik/detikcom)
Makassar - Pansus Hak Angket kembali mengungkap dugaan bagi-bagi proyek senilai miliaran rupiah di tubuh Pemprov Sulsel. Salah satu pengusaha yang dihadirkan mengungkap ada fee 7,5 persen yang dibayarkan untuk mendapatkan sebuah proyek senilai Rp 34 miliar.

Hal ini terungkap saat pengusaha Irfan Jaya dihadirkan oleh Pansus Hak Angket Gubernur Sulsel di Makassar, Selasa (15/7/2019). Irfan Jaya dihadirkan sebagai saksi lantaran hadir pada pertemuan antara eks Kepala Biro Pembangunan Sulsel Jumras, Kepala Bapenda Sulsel Andi Sumardi Sulaiman, dan dua pengusaha, yaitu Agung Sucipto dan Ferry Tandiary.

Irfan dalam kesaksiannya menyebut menghubungi Sumardi untuk mengkonfirmasi adanya omongan bahwa ada fee yang harus dibayarkan untuk mendapatkan proyek di Sulsel. Selanjutnya mereka janjian bertemu di Kafe Mama di Makassar pada sekitar bulan April.

"Saya ke Mama Cafe, saya ajak dua pengusaha, Pak Ferry dan Angguh, dan ketemu di depan Mama Cafe. Karena tutup, dan kebetulan saya ada barbershop, kami berempat di barber. Lalu Pak Jumras datang," kata Irfan di depan Pansus Hak Angket.

Irfan mengatakan Sumardi, yang melihat dua pengusaha itu, tampak tidak nyaman dan tidak lama berselang pamit dan meminta Pak Jumras yang bertemu dengan dua pengusaha itu.

"Lalu dia pergi, lalu Pak Ferry, Angguh, dan Jumras. Pak Angguh lebih banyak di luar, akhirnya Pak Ferry cerita dua proyek ini, kurang-lebih minta petunjuk. Lalu Pak Jumras mengatakan proyek ini nilai ada fee 7,5 persen," sebutnya.



Disebutkannya, Jumras mengatakan kepada Ferry bahwa dirinya tidak menjamin pengusaha itu akan mendapatkan proyek peningkatan ruas jalan di Palampang-Munte-Bontololempangan di Kabupaten Sinjai dan Bulukumba senilai Rp 34 miliar.

"Itu proyeknya yang di Palampang-Munte-Bontololempangan nilai Rp 34 miliar yang ada di Kabupaten Sinjai dan Bulukumba," kata Irfan.

"Lalu Pak Jumras bilang, kalau orang sudah bayar 7,5 persen, saya siap pasang badan," sambungnya.

Jumras kemudian menelepon Hartawan dan mempertemukan dengan dua pengusaha sebelumnya. Jumras, kata Irfan, langsung pergi setelah para pengusaha itu bertemu.

Keterangan Irfan ini agak berbeda dengan keterangan Sumardi pada pemeriksaan sebelumnya, yang menyebut kedatangan Sumardi ingin mengklarifikasi soal dirinyalah yang mengatur proyek di Sulsel. Pada pemeriksaan sebelumnya, Sumardi mengaku hanya ingin ngopi bersama Irfan Jaya.



Ditambahkannya, proyek ini menggunakan anggaran pokok 2019. Pada akhirnya, proyek dimenangi oleh PT Putra Utama Global, yang dimiliki oleh Hartawan.

Sebelumnya, Sumardi menyebut tidak mengenal kedua pengusaha bernama Agung Sucipto alias Angguh dan Ferry Tandiari.

"Saya diundang untuk minum kopi di kafe. Saya mau ngopi dengan Irfan Jaya, saya tidak ketemu siapa-siapa," elak Sumardi.

Pada saat itu, Sumardi menyebut, setelah bertemu dengan Irfan Jaya di Kafe Mama, daerah Jalan Bau Mangga, Makassar, sekitar bulan April, datanglah dua pengusaha. Di sana, juga telah ada Jumras yang telah menunggu.

"Saya tidak lama di sana, hanya duduk, salaman, dan langsung pulang," sebutnya.

Dia juga membantah jika dikatakan dirinyalah yang menelpon Jumras untuk bertemu di kafe itu. Sumardi mengaku hanya mendapatkan undangan untuk ngopi bersama Irfan Jaya.

Simak Video "Gerilya Pemburu Tanah di Ibu Kota Baru"
[Gambas:Video 20detik]

(fiq/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com