detikNews
Jumat 12 Juli 2019, 12:08 WIB

Stafsus Presiden Dorong Negara Muslim Tingkatkan Peran Atasi Pengungsi

Danu Damarjati - detikNews
Stafsus Presiden Dorong Negara Muslim Tingkatkan Peran Atasi Pengungsi Foto ilustrasi para pencari suaka dari luar negeri di Jakarta. (Rolando/detikcom)
Jakarta - Keberadaan para pencari suaka di Jakarta telah menjadi sorotan banyak pihak. Banyak di antara mereka berasal dari negara-negara berpenduduk muslim. Negara-negara muslim didorong untuk meningkatkan kerjasama mengatasi masalah pencari suaka ini.

"Secara umum, solidaritas negara-negara OKI masih perlu ditingkatkan meski selama ini sudah dilakukan kerjasama terkait penanganan para pencari suaka," kata Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan Internasional, Siti Ruhaini Dzuhayatin, kepada wartawan, Jumat (12/7/2019).



OKI (Organisasi Kerjasama Islam) yang dibentuk sejak tahun 1969 kini beranggotakan 57 negara Islam atau berpenduduk mayoritas Islam, merentang dari Indonesia di Asia Tenggara hingga Albania di Eropa, dari Uzbekistan di Asia Tengah hingga Gabon di Afrika Tengah. Ruhaini adalah mantan Ketua HAM OKI (IPHRC-OIC) periode 2012-2014 dan komisioner untuk lembaga itu untuk periode 2014-2018.

"OKI sebagai lembaga politik memang perlu didorong untuk dapat menyelesaikan masalah politiknya sebagai hulu dari masalah pengungsian itu," kata Ruhaini.



Menurutnya, hulu permasalahan para pencari suaka itu ada di negara masing-masing. Konflik rumit dan berkepanjangan harus segera diselesaikan supaya arus pencari suaka bisa berhenti. Peran politik OKI yang perlu ditingkatkan adalah turun tangan memediasi konflik di negara asal pengungsi.

"Tentu kita harus mendorong OKI untuk lebih aktif lagi memerankan posisi strategisnya untuk dapat memediasi, mengajak berunding faksi-faksi yang ada di dalam pertikaian, sehingga masalah-masalah pengungsi bisa diatasi dari hulunya," kata Ruhaini.

Indonesai merupakan salah satu negara anggota OKI. Negara dengan penduduk mayoritas muslim, juga menjadi salah satu negara yang menampung pencari suaka. Negara ini bukan negara tujuan pencari suaka karena Indonesia belum meratifikasi Konvensi PBB mengenai Status Pengungsi Tahun 1951 dan Protokol mengenai Status Pengungsi 31 Januari 1967. Namun Indonesia mengutamakan nilai kemanusiaan.



"Pendekatan Indonesia adalah pendekatan kemanusiaan. Kedua, Indonesia melakukan pendekatan constructive engagement kepada negara-negara bermasalah. Misalnya, membantu Afghanistan menyelesaikan masalahnya. Kita mencoba menjadi mediator pihak-pihak yang bertikai di Afghanistan," kata Ruhaini.

Dalam pendekatan penyelesaian konflik di Afghanistan misalnya, Indonesia menempatkan semua pihak yang bertikai sebagai faksi. Taliban dipandang bukan sebagai musuh namun sebagai salah satu faksi yang perlu diajak duduk bersama faksi-faksi lainnya. Dikatakannya, Indonesia berpengalaman menangani konflik sehingga bisa mengupayakan langkah tersebut. Peran semacam itulah yang perlu ditingkatkan oleh OKI.




Simak Video "Evakuasi Pencari Suaka di Kebon Sirih Berujung Ricuh"
[Gambas:Video 20detik]

(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com